"Syiah Bukan Islam, Islam Bukan Syiah" : Dimana akal sehat ?
Saya menuliskan hal ini bukan berniat macam - macam. Namun saya hanya tidak tega melihat saudara muslim saya sendiri khususnya muslim syiah merasa terdiskriminasi dan terpojok oleh kaum - kaum pemecah belah umat beragama. Sudah cukup penderitaan yang mereka alami selama ini. Mari kita hentikan sama - sama dengan cara menyadarkan dan mengumumkan ke khalayak ramai bahwa Syiah itu islam dan bahwa Islam Ahlussunnah Wal Jama'ah dan Syi'ah itu adalah bersaudara. We are one ummah muslems unite!
Berikut ini merupakan modus-modus yang dituduhkan “Syiah Bukan Islam, Islam Bukan Syiah” oleh sekelompok orang pandir yang berlagak sebagai tuhan-tuhan swasta dengan klaim sebagai “Penentu Surga-Neraka”
Ini adalah tahapan modus kezaliman yang dilakukan oleh kelompok intoleran terhadap Madzhab Syiah dan pengikutnya.
Modus Pertama: Pemutarbalikan Fakta
Meski selalu menjadi sasaran tindak kekerasan, pengusiran, bahkan
sampai pembunuhan, Syiah selalu ditampilkan sebagai pelakunya oleh
kelompok intoleran/takfiri. Mereka menggunakan berbagai media. Mulai
dari ceramah-ceramah di masjid, acara-acara seminar, media social,
website-website sampai penyebaran buku dan video gratis.
Disinformasi ini intensif dengan kedok tabligh akbar meski yang
datang adalah peserta drop-dropan, juga melalui bedah buku oleh kawanan
yang mengaku sebagai intelektual dan ulama. Akibatnya, syiah menjadi
stigma negatif bagi siapapun yang dikenal atau dianggap syiah yang
otomatis berdampak pada penerimaan publik terhadap mereka
Modus Kedua: Penyesatan
Syiah digambarkan melalui provokasi vulgar sebagai kumpulan ajaran
orang-orang ngawur; orang-orang yang berencana masuk neraka. Karena
penyesatan ini dilakukan dengan penghakiman in absentia di dalam masjid
maka sebagian masyarakat terpengaruh. Lalu beredarlah anggapan “Syiah
sesat” di tengah masyarakat. Bagi masyarakat yang sudah terpengaruh
propaganda ini sikap intoleransi dan anti kebhinekaan dianggap sebagai
bukti relijiusitas.
Modus Ketiga: Pengkafiran
Setelah penyesatan, tahap berikutnya adalah pengkafiran. Ada
penambahan volume dan bobot fitnah dari modus sebelumnya. Modus ketiga
ini tujuan utamanya adalah diskriminasi, intimidasi, dan pemusnahan.
Orang yang sudah dicap kafir dipandang lebih hina daripada tikus got.
Tikus adalah makhluk yang paling teraniaya di Jakarta. Jalan-jalan
menjadi galeri sadisme, roda-roda melumatnya tanpa setitik iba padahal
ia diciptakan untuk hidup. Mereka memperlakukan pengikut syiah seperti
itu.
Syiah telah dilukiskan sebagai pelaku kejahatan di Suriah lalu
disesatkan kemudian dikafirkan dan selanjutnya mereka dianggap tidak
lebih dari tikus got! Sampang buktinya.
Sasaran berikutnya adalah orang-orang non Syiah yang tidak mau
menganggap Syiah sebagai sesat, kafir, atau bahkan hanya karena kurang
lantang membencinya
Sejak dahulu kelompok intoleran gemas dengan sikap beberapa tokoh
intelektual dan ulama besar. Mereka gagal menemukan setitik alasan untuk
memojokkan mereka. Karena mereka tidak menemukan secuil pun alasan
untuk menurunkan popularitas tokoh-tokoh yang toleran maka ditempuhlah
beberapa modus operandi. Salah satunya adalah fitnah
Analoginya seperti ini, karena menolak ajakan menuduh seseorang
sebagai maling maka dia pun dituduh sebagai maling. Inilah represi
intelektual dan pelanggaran HAM. Supaya kelompok takfiri itu leluasa
mengais pahala dengan melakukan apa saja terhadap “orang-orang kafir”
itu maka siapapun yang membela, masih mempunyai rasa iba dan empati
dianggap sesat dan kafir juga.
Memberikan stigma “Syiah” kepada tokoh-tokoh yang toleran bertujuan
agar masyarakat ikut menyesatkannya. Dengan stigma “Syiah” dan “Sesat”
diharapkan penerimaan publik terhadapnya menurun, rating acara yang
diasuhnya menurun. Sambil menanti itu, mereka distribusikan
misionaris-misionaris untuk terus menggempur ulama toleran tersebut
dengan stigma “Syiah” untuk kemudian mereka take over.
Sebenarnya cap “Syiah” itu bukan tuduhan, justru atribut berkelas
karena identik dengan peradaban Islam yang dibangun di atas filsafat,
tasawuf, teks dan lain-lain. Sebagian orang malah santai ketika
disesatkan dan segar bugar ketika dikafirkan. “Kalau kita tidak
disesatkan oleh Wahabi berarti kita sama dengan mereka, donk!”, seloroh
mereka.
Meski Syiah adalah atribut mulia bagi penganutnya, tetapi sekarang
kata ini “di-PKI-kan” dan efektif menjadi palu godam pembunuhan
karakter. Dengan modus-modus tersebut, genosida bisa dilakukan dalam
tempo yang sesingkat-singkatnya karena suara tokoh-tokoh seperti Quraish
Shihab, Said Aqil Siradj, dan Din Syamsudin dibungkam dengan cap
“Syiah”!
Oleh : Muhsin Labib, Sumber : muhsinlabib.com
No comments:
Post a Comment