Harapan dari seorang pemuda untuk Indonesia..

"Walaupun berbeda pendapat tapi tetap menghormati dan menyayangi. Saling menjaga perasaan dan saling memaafkan jikalau memiliki kesalahan. Memiliki visi - misi hidup sejahtera bersama dan bersama melawan "orang - orang" yang tidak ingin negara nya hidup damai". 

Tidak usah terlalu serius, text diatas hanyalah sekedar dongeng dari sebuah negeri khayalan XD hahaha pilu memang hati ini ketika melihat negeri tercinta Indonesia sedang dilanda kemarau batin yang begituuuuuuuu dalam ughhhh. Mengapa saya katakan demikian ? Pertama, melihat social media sekarang (facebook, instagram, youtube dll) dimanfaatkan bukan lagi sebagai tempat untuk bersilaturahmi, mendekatkan yang jauh dan merapatkan yang dekat, berbagi informasi positif dll. Namun lebih kepada ajang untuk berdebat, berdebat, dan berdebat alamakjannnngg!. Bayangkan, jika setiap hari melihat yang demikian ? setiap waktu ? setiap jam ? pastilah hidup tak tenang, gundah gulana, hati galau dan yaa masih banyak lagi. Padahal yang didebatkan masalah ituuu ituuu saja kalau gak soal politik, agama, dan suku budaya. Nyadar gak sih barang sekaliiii aja mengingat kembali perjuangan Bung Karno dkk dulu waktu mengeluarkan Indonesia dari keterpurukan cengkraman penjajah ? ituu beliau susah payah merekatkan dan mempersaudarakan masyarakat yang berbeda beda ini, beda agama, suku, ras, budaya untuk bisa bersatu merebut kemerdekaan! nahh zaman sekarang kita dengan seenak jidat nyaa mau merusak perjuangan pahlawan dulu dengan berdebat yang gak ada habis nya ? mikirr gakk!? (kan emosi hufthhh).

Apasih salahnyaa mengalah dalam perdebatan ? apasih salahnya memaafkan didalam ketegangan ? apasih salahnya menghormati dalam perbedaan ? sesulit itukahhh untuk hidup aman damai sejahtera ? apaa yang kalian cari hey para pencari "kebenaran semu" ? kalau menang debat emang dapat apa ? dapat piala kah atau dapat uang 200 T kaha atau gimana ? bayangkan jikalau hal ini terus berlanjut dan dilihat oleh anak - anak sekarang, kebayang gak Indonesia di masa yang akan datang akan seperti apa ?

Jujur, saya sebagai pemuda merasa sangat kecewa hal ini terjadi di negara kita. Mana katanya masyarakat yang paling ramah didunia itu ? diberitakan sedikit aja tentang agama nya, budaya nya, atau komunitas nyaa udah kebakaran jenggot! Selemah itukah keteguhan hati kita ? Saya islam, namun saya mecintai hindu, buddha, kejawen, nasrani, yahudi, konghucu dan semua agama di dunia yang mengajarkan kebenaran. Karena bagi saya, kita diciptakan dari tanah yang sama. Hanya keyakinan yang membedakan kita. Lantas, dengan begitu apakah kita tidak bisa menghormati orang lain ? teringat saya akan kata kata sejuk dari yang mulia Habib Lutfi (semoga beliau selalu dalam lindungan Allah SWT), kata beliau : "jikalau anda tidak bisa menghormati orang lain karena kepercayaan nya berbeda dengan anda, maka hormatilah mereka karena mereka sesama ciptaan Tuhan".

Itulah menurut saya setinggi tinggi nya toleransi. Kami sebagai pemuda hanya menginginkan Indonesia bersatu padu. Meninggalkan perdebatan, lebih berfokus pada inovasi dan kreasi untuk bisa menciptakan hal yang akan memajukan negeri tercinta ini. Islam, nasrani, hindu, budha, kejawen, yahudi, konghucu semuanyaa bersama - sama hidup rukun menciptakan suasana yang kondusif. Karena sesungguhnya musuh utama kita bukanlah orang yang tidak sefaham dengan kita, namun orang - orang yang ingin Indonesia terpecah - belah. Gak mau kan kehidupan yang telah kita bagun selama beratus tahun ini direnggut oleh ornag pegecut seperti itu ?

Yasudahlah itu saja uneg - uneg saya pada hari ini. Alhamdulillah dengan begini akhirnya saya bisa mengeluarkan sedikt beban difikiran saya mengenai negeri tercinta hahaha semoga kedepanya Indonesia menjadi dan benar - benar menjadi negeri khayalan yang saya impi impikan di paragraph awal. Semoga..


Al - Maidah ayat 51 dan berbagai sudut pandang nya..



Al – Maidah : 51 ! penistaan !! hukum !! lawaan !! Muslim haruss lawaann!!

Yah, inilah kata – kata yang dalam seminggu belakangan tidak asing lalu lalang di media sosial seperti facebook, instagram dll. Hal ini seperti sebuah bom atom yang tengah meledak diantara bangunan toleransi yang sudah kita jaga selama berpuluh bahkan beratus – ratus tahun lamanya. Saya sendiri kadang merasa ngilu hati melihat masyarakat yang konon sangat menjunjung tinggi nilai – nilai kearifan ini berlaku demikian. Untuk itu, saya mencoba membagikan tulisan yang dikutip dari komentar para tokoh (Ketua Lakpesdam PBNU dan Cak Nun) yang mana semoga saja tulisan ini bisa mendamaikan hati kita yang sedang dilanda kekeringan dalam memahami dan mengambil sikap terhadap “bom atom” tersebut. Diambil dari tulisan fiqihmenjawab.net dan islamindonesia.id, ini dia :

fiqhmenjawab.net ~ Tak henti-hentinya kami mengingatkan agar kita semua berhati-hati menggunakan isu yang terkait dengan agama dalam politik perebutan kekuasaan. Apa yang terjadi belakangan ini terkait Pilkada DKI adalah bagian dari fenomena politisasi agama, baik yang dilakukan oleh Basuki Tjahaya Purnama (Ahok) maupun pihak-pihak yang menentang Ahok. Kalau hal ini tidak terkendali, akan merusak sendi-sendi keberagaman bangsa kita. Jangan main-main dengan persoalan agama dalam politik perebutan kekuasaan.
Bisa saja Ahok tidak bermaksud menistakan Islam dalam pidato lepasnya di Kepulauan Seribu beberapa waktu lalu. Ahok memang sedang mengkritik sejumlah kalangan yang menggunakan agama (Islam) sebagai alat kampanye agar tidak memilih dirinya –dalam hal ini larangan bagi muslim untuk memilih pemimpin non-muslim. Namun, ungkapan Ahok itu bagi sebagian kalangan yang memang sejak awal tidak suka dengannya, bisa dianggap sebagai bentuk penghinaan terhadap ajaran Islam. Ahok dan para pendukungnya juga harus menyadari persoalan seperti ini akan mudah dipolitisasi dan potensial dijadikan sebagai alat untuk memojokkan dirinya.

Kami tidak bisa melarang jika ada orang yang tidak mau memilih Ahok karena keyakinan agamanya. Itu sepenuhnya hak Anda! Tapi jangan jadikan hal tersebut sebagai bahan kampanye negatif. Mengajak untuk memilih calon Gubernur DKI yang seagama harus diungkapkan secara positif. Jangan diungkapkan secara negatif untuk menjatuhkan seseorang. Meski kami memaklumi untuk mengajak memilih calon pemimpin seagama secara positif, tapi kami merasa perlu mengingatkan agar hal tersebut tidak menggunakan tempat-tempat ibadah sebagai mediumnya.
Politik tetap saja politik, arena perebutan kekuasaan. Melibatkan agama dalam urusan politik yang penuh intrik dan kerakusan, hanya akan mengotori agama yang kita sucikan.
Atas dasar itu, kami mengingatkan: STOP politisasi agama! Mari kita menjadi bagian dari kelompok masyarakat yang menghentikan itu semua.[]

Jakarta, 10 Oktober 2016
Oleh: Rumadi Ahmad, Ketua Pengurus Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU

Dicopy dan dikutip dari situs http://www.fiqhmenjawab.net/2016/10/stop-politisasi-agama/ pada tanggal 11/10/2016 pada jam 13.14

Sekarang, mari kita coba lanjutkan dengan ulasan serta komentar dari Cak Nun :

Soal Al-Maidah 51, Cak Nun: Yang Bilang Gubernur Itu Pemimpin Siapa?


IslamIndonesia.id – Soal Al-Maidah 51, Cak Nun: Yang Bilang Gubernur Itu Pemimpin Siapa?

Meski Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) telah meminta maaf secara terbuka, kontroversi soal surat Al-Maidah 51 belum tamat. Pasalnya, penanganan pelaporan dari sejumlah ormas tentang dugaan penghinaan Agama di Bareskrim tetap berlanjut, kata Kadiv Humas Polri Irjen Boy Rafli Amar di Mabes Polri (10/10).
Seperti diketahui, surat Al-Maidah ayat 51 yang disebut Ahok diyakini sebagian orang sebagai ayat penolakan terhadap pemimpin kafir.  Namun menurut Prof. Quraish Shihab, tafsir ayat itu tidak sesederhana itu. Tafsir kata ‘awliya’ dalam ayat itu saja tidak sebatas pemimpin.
Berbicara soal pemimpin kafir, di kesempatan berbeda, budayawan senior Emha Aiun Najib tidak setuju jika kafir dan Muslimnya seseorang dinilai seperti benda mati.
“Status Muslim dan kafir itu dinamis (pada setiap orang), tidak bisa dinilai dengan ukuran statis,” kata pria yang akrab disapa Cak Nun ini sembari menegaskan bahwa pendapatnya tidak ada kaitannya dengan Gubernur Ahok.
Pandangan alternatif pria kelahiran Jombang ini mengingatkan juga pada hadist Nabi Saw yang bersabda: “Tidak termasuk orang yang beriman, siapa saja yang kenyang sedangkan tetangganya dalam keadaan lapar.” (HR. Bukhari)
Selain itu, lanjut Cak Nun, Muslim atau kafir tidak berdiri sendiri. Kafir kepada siapa? Jika ia kafir dalam arti membangkang atau ingkar pada perintah Iblis, berarti sejatinya ia beriman pada Allah. Sebaliknya, jika ia berserah diri pada rayuan Iblis maka ia sejatinya orang yang ‘Muslim’ pada Iblis.
“Hukum tidak mengadili manusia, tapi yang diadili adalah perbuatannya,” kata penulis buku ‘Slilit Sang Kiayi’ ini menjelaskan filosofi hukum.
Karena itu, menghakimi seseorang  bahwa ia Muslim dan kafir bukan dilihat dari identitasnya, tapi perbuatannya. Jadi orang yang sekarang disebut Muslim bisa kafir kapan saja.
“Toh Anda tidak bersyukur aja tergolong kufur ko,” katanya sambil menjelaskan ragam tingkatan kufur.
Jika kita ditinjau dari hadist-hadist Nabi, kekafiran itu identik dengan moral seseorang. Bukhari misalnya meriwayatkan, “Tidaklah beriman seorang pezina ketika ia sedang berzina. Tidaklah beriman seorang peminum khamar ketika ia sedang meminum khamar. Tidaklah beriman seorang pencuri ketika ia sedang mencuri.”
Cak Nun juga menyampaikan kritik soal dikotomi pemimpin kafir tapi adil dan pemimpin Muslim tapi dzalim. Pertama, keduanya bukanlah kriteria pemimpin.  Muslim tapi dzalim tidak memenuhi kriteria kepemimpinan, sedemikian sehingga tidak bisa disebut pemimpin.
“Ini bertentangan satu sama lain. Ini kesalahan substantif dalam berfikir”
Cak Nun lalu mempertanyakan bagaimana mungkin ada Muslim tapi disebut dzalim. Baginya, jika dikaji makna substantifnya, kalau dzalim pasti bukan Muslim. “Gula ko pahit?,” katanya memberikan analogi.
Tidak berbeda dengan pernyataan tentang kafir itu adil. Kekufuran itu, kata Cak Nun, bahkan merupakan puncak ketidakadilan. Kepada Tuhan saja ia tidak bersikap adil, bagaimana ia bisa disebut adil secara horizontal. Karena itu, dikotomi kesalehan individual dan kesalehan sosial juga terlalu dangkal. Bagi Cak Nun, jika perilakunya merusak di ranah sosial, sejatinya tidak layak disebut saleh meski secara lahir terlihat saleh. Karena orang saleh (secara individu) akan saleh secara sosial.
Penjelasan ini sejatinya mencerminkan hubungan identik antara keimanan dan empati sosial. Misalnya, dalam sebuah hadist, Nabi Saw bersabda: Tak beriman seseorang dari kalian hingga dia menginginkan kebaikan bagi saudaranya sebagaimana dia menginginkan kebaikan bagi dirinya sendiri.
Selanjutnya, kata Cak Nun, “Yang bilang gubernur itu pemimpin itu siapa?”  Gubernur, bagi pria asal Jombang ini,  bukanlah pemimpin tapi petugas. Gubernur sebagaimana pejabat lainnya ialah orang yang dibayar oleh rakyat untuk bekerja mengurus transportasi publik, kemacetan, banjir dan hal-hal semacamnya.
“Itu pembantu rumah tangga dalam skala provinsi. Ko’ disebut pemimpin,” katanya mengajak kembali menggali konsep hakiki ‘pemimpin’ dalam Islam.[]

Nah itulah komentar dan ulasan dari ketua Lakpesdam PBNU Rumadi Ahmad dan Cak Nun. Penilaian dan keputusan ada pada kawan – kawan sendiri. Namun kiranya 2 komentar dan ulasan tadi sudah cukup untuk mengarahkan bagaimana sikap dan perilaku kita menghadapi hal ini. Adapun pendapat dan pesan dari saya pribadi yaitu memang didalam Al-Qur’an telah jelas mengatakan demikian memilih pemimpin kafir itu adalah haram. Namun perlu digaris bawahi lagi, pemimpin kafir seperti apa yang masuk definisi kafir didalam Al-Qur’an tersebut jika kita cocokkan dengan zaman kita sekarang ? jikalau kawan - kawan memang sudah mendapatkan jawabanya, dan jikalau jawaban tersebut dapat menyakiti hati orang lain andai diungkapkan maka diam lah. Cukup kawan – kawan dan Tuhan yang tahu. Yang paling penting adalah, toleransi dan kasih sayang hidup beragama itu yang dijunjung tinggi diatas segalanya. Karena kita tidak sedang berhadapan dengan orang yg tidak sefaham dengan keyakinan kita, tetapi kita sedang menghadapi musuh yg nyata yaitu orang yg tidak ingin kita semua hidup rukun didalam perbedaan.

Singkat saja sebagai penutup saya akan menghadirkan kutipan - kutipan dari idola saya :

"Kita butuh islam ramah, bukan islam marah" karena "Keragaman adalah keniscayaan akan hukum Tuhan atas ciptaan-Nya" untuk itu "Marilah kita bangun bangsa dan kita hindarkan pertikaian yang sering terjadi dalam sejarah. Inilah esensi tugas kesejahteraan kita, yang tidak boleh kita lupakan sama sekali" "Bukankah dengan demikian menjadi jelas bagi kita bahwa menerima perbedaan pendapat dan asal - muasal bukanlah tanda kelemahan, melainkan menunjukkan kekuatan" - (Alm) Gus Dur

See you gaesss...