Al –
Maidah : 51 ! penistaan !! hukum !! lawaan !! Muslim haruss lawaann!!
Yah,
inilah kata – kata yang dalam seminggu belakangan tidak asing lalu lalang di
media sosial seperti facebook, instagram dll. Hal ini seperti sebuah bom atom
yang tengah meledak diantara bangunan toleransi yang sudah kita jaga selama
berpuluh bahkan beratus – ratus tahun lamanya. Saya sendiri kadang merasa ngilu
hati melihat masyarakat yang konon sangat menjunjung tinggi nilai – nilai kearifan ini berlaku demikian. Untuk itu, saya mencoba membagikan tulisan yang dikutip dari komentar para tokoh (Ketua Lakpesdam PBNU dan Cak Nun) yang mana
semoga saja tulisan ini bisa mendamaikan hati kita yang sedang dilanda kekeringan dalam
memahami dan mengambil sikap terhadap “bom atom” tersebut. Diambil dari tulisan fiqihmenjawab.net dan islamindonesia.id, ini dia :
fiqhmenjawab.net ~ Tak henti-hentinya kami mengingatkan
agar kita semua berhati-hati menggunakan isu yang terkait dengan agama dalam
politik perebutan kekuasaan. Apa yang terjadi belakangan ini terkait Pilkada
DKI adalah bagian dari fenomena politisasi agama, baik yang dilakukan oleh
Basuki Tjahaya Purnama (Ahok) maupun pihak-pihak yang menentang Ahok. Kalau hal
ini tidak terkendali, akan merusak sendi-sendi keberagaman bangsa kita. Jangan
main-main dengan persoalan agama dalam politik perebutan kekuasaan.
Bisa saja
Ahok tidak bermaksud menistakan Islam dalam pidato lepasnya di Kepulauan Seribu
beberapa waktu lalu. Ahok memang sedang mengkritik sejumlah kalangan yang
menggunakan agama (Islam) sebagai alat kampanye agar tidak memilih dirinya
–dalam hal ini larangan bagi muslim untuk memilih pemimpin non-muslim. Namun,
ungkapan Ahok itu bagi sebagian kalangan yang memang sejak awal tidak suka
dengannya, bisa dianggap sebagai bentuk penghinaan terhadap ajaran Islam. Ahok
dan para pendukungnya juga harus menyadari persoalan seperti ini akan mudah
dipolitisasi dan potensial dijadikan sebagai alat untuk memojokkan dirinya.

Kami tidak
bisa melarang jika ada orang yang tidak mau memilih Ahok karena keyakinan
agamanya. Itu sepenuhnya hak Anda! Tapi jangan jadikan hal tersebut sebagai
bahan kampanye negatif. Mengajak untuk memilih calon Gubernur DKI yang seagama
harus diungkapkan secara positif. Jangan diungkapkan secara negatif untuk
menjatuhkan seseorang. Meski kami memaklumi untuk mengajak memilih calon
pemimpin seagama secara positif, tapi kami merasa perlu mengingatkan agar hal
tersebut tidak menggunakan tempat-tempat ibadah sebagai mediumnya.
Politik
tetap saja politik, arena perebutan kekuasaan. Melibatkan agama dalam urusan politik
yang penuh intrik dan kerakusan, hanya akan mengotori agama yang kita sucikan.
Atas dasar
itu, kami mengingatkan: STOP politisasi agama! Mari kita menjadi bagian dari
kelompok masyarakat yang menghentikan itu semua.[]
Jakarta, 10
Oktober 2016
Oleh: Rumadi
Ahmad, Ketua Pengurus Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya
Manusia (Lakpesdam) PBNU
Sekarang, mari kita coba lanjutkan dengan ulasan serta komentar dari Cak Nun :
Soal
Al-Maidah 51, Cak Nun: Yang Bilang Gubernur Itu Pemimpin Siapa?
IslamIndonesia.id – Soal Al-Maidah 51, Cak Nun: Yang
Bilang Gubernur Itu Pemimpin Siapa?
Meski
Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) telah meminta maaf secara
terbuka, kontroversi soal surat Al-Maidah 51 belum tamat. Pasalnya, penanganan
pelaporan dari sejumlah ormas tentang dugaan penghinaan Agama di Bareskrim
tetap berlanjut, kata Kadiv Humas Polri Irjen Boy Rafli Amar di Mabes Polri
(10/10).
Seperti
diketahui, surat Al-Maidah ayat 51 yang disebut Ahok diyakini sebagian orang
sebagai ayat penolakan terhadap pemimpin kafir. Namun menurut Prof.
Quraish Shihab, tafsir ayat itu tidak sesederhana itu. Tafsir kata ‘awliya’
dalam ayat itu saja tidak sebatas pemimpin.
Berbicara
soal pemimpin kafir, di kesempatan berbeda, budayawan senior Emha Aiun Najib
tidak setuju jika kafir dan Muslimnya seseorang dinilai seperti benda mati.
“Status
Muslim dan kafir itu dinamis (pada setiap orang), tidak bisa dinilai dengan
ukuran statis,” kata pria yang akrab disapa Cak Nun ini sembari menegaskan
bahwa pendapatnya tidak ada kaitannya dengan Gubernur Ahok.
Pandangan
alternatif pria kelahiran Jombang ini mengingatkan juga pada hadist Nabi Saw
yang bersabda: “Tidak termasuk orang yang beriman, siapa saja yang kenyang
sedangkan tetangganya dalam keadaan lapar.” (HR. Bukhari)
Selain itu,
lanjut Cak Nun, Muslim atau kafir tidak berdiri sendiri. Kafir kepada siapa?
Jika ia kafir dalam arti membangkang atau ingkar pada perintah Iblis, berarti
sejatinya ia beriman pada Allah. Sebaliknya, jika ia berserah diri pada rayuan
Iblis maka ia sejatinya orang yang ‘Muslim’ pada Iblis.
“Hukum tidak
mengadili manusia, tapi yang diadili adalah perbuatannya,” kata penulis buku
‘Slilit Sang Kiayi’ ini menjelaskan filosofi hukum.
Karena itu,
menghakimi seseorang bahwa ia Muslim dan kafir bukan dilihat dari
identitasnya, tapi perbuatannya. Jadi orang yang sekarang disebut Muslim bisa
kafir kapan saja.
“Toh Anda
tidak bersyukur aja tergolong kufur ko,” katanya sambil menjelaskan ragam tingkatan
kufur.
Jika kita
ditinjau dari hadist-hadist Nabi, kekafiran itu identik dengan moral seseorang.
Bukhari misalnya meriwayatkan, “Tidaklah beriman seorang pezina ketika ia
sedang berzina. Tidaklah beriman seorang peminum khamar ketika ia sedang meminum
khamar. Tidaklah beriman seorang pencuri ketika ia sedang mencuri.”
Cak Nun juga
menyampaikan kritik soal dikotomi pemimpin kafir tapi adil dan pemimpin Muslim
tapi dzalim. Pertama, keduanya bukanlah kriteria pemimpin. Muslim tapi
dzalim tidak memenuhi kriteria kepemimpinan, sedemikian sehingga tidak bisa
disebut pemimpin.
“Ini
bertentangan satu sama lain. Ini kesalahan substantif dalam berfikir”
Cak Nun lalu
mempertanyakan bagaimana mungkin ada Muslim tapi disebut dzalim. Baginya, jika
dikaji makna substantifnya, kalau dzalim pasti bukan Muslim. “Gula ko pahit?,”
katanya memberikan analogi.
Tidak
berbeda dengan pernyataan tentang kafir itu adil. Kekufuran itu, kata Cak Nun,
bahkan merupakan puncak ketidakadilan. Kepada Tuhan saja ia tidak bersikap
adil, bagaimana ia bisa disebut adil secara horizontal. Karena itu, dikotomi
kesalehan individual dan kesalehan sosial juga terlalu dangkal. Bagi Cak Nun,
jika perilakunya merusak di ranah sosial, sejatinya tidak layak
disebut saleh meski secara lahir terlihat saleh. Karena orang saleh
(secara individu) akan saleh secara sosial.
Penjelasan
ini sejatinya mencerminkan hubungan identik antara keimanan dan empati
sosial. Misalnya, dalam sebuah hadist, Nabi Saw bersabda: “Tak
beriman seseorang dari kalian hingga dia menginginkan kebaikan bagi saudaranya
sebagaimana dia menginginkan kebaikan bagi dirinya sendiri.”
Selanjutnya,
kata Cak Nun, “Yang bilang gubernur itu pemimpin itu siapa?” Gubernur,
bagi pria asal Jombang ini, bukanlah pemimpin tapi petugas. Gubernur
sebagaimana pejabat lainnya ialah orang yang dibayar oleh rakyat untuk bekerja
mengurus transportasi publik, kemacetan, banjir dan hal-hal semacamnya.
“Itu
pembantu rumah tangga dalam skala provinsi. Ko’ disebut pemimpin,” katanya
mengajak kembali menggali konsep hakiki ‘pemimpin’ dalam Islam.[]
Nah itulah komentar dan ulasan dari
ketua Lakpesdam PBNU Rumadi Ahmad dan Cak Nun. Penilaian dan keputusan ada pada
kawan – kawan sendiri. Namun kiranya 2 komentar dan ulasan tadi sudah cukup
untuk mengarahkan bagaimana sikap dan perilaku kita menghadapi hal ini. Adapun pendapat dan pesan dari saya pribadi yaitu memang didalam Al-Qur’an telah jelas mengatakan demikian memilih pemimpin kafir itu adalah
haram. Namun perlu digaris bawahi lagi, pemimpin kafir seperti apa yang masuk
definisi kafir didalam Al-Qur’an tersebut jika kita cocokkan dengan zaman kita
sekarang ? jikalau kawan - kawan memang sudah mendapatkan jawabanya, dan
jikalau jawaban tersebut dapat menyakiti hati orang lain andai diungkapkan maka
diam lah. Cukup kawan – kawan dan Tuhan yang tahu. Yang paling penting adalah, toleransi dan kasih
sayang hidup beragama itu yang dijunjung tinggi diatas segalanya. Karena kita
tidak sedang berhadapan dengan orang yg tidak sefaham dengan keyakinan kita,
tetapi kita sedang menghadapi musuh yg nyata yaitu orang yg tidak ingin kita
semua hidup rukun didalam perbedaan.
Singkat saja sebagai penutup saya akan menghadirkan kutipan - kutipan dari idola saya :
"Kita butuh islam ramah, bukan islam marah" karena "Keragaman adalah keniscayaan akan hukum Tuhan atas ciptaan-Nya" untuk itu "Marilah kita bangun bangsa dan kita hindarkan pertikaian yang sering terjadi dalam sejarah. Inilah esensi tugas kesejahteraan kita, yang tidak boleh kita lupakan sama sekali" "Bukankah dengan demikian menjadi jelas bagi kita bahwa menerima perbedaan pendapat dan asal - muasal bukanlah tanda kelemahan, melainkan menunjukkan kekuatan" - (Alm) Gus Dur
See you gaesss...