Selamat pagi. Kali ini saya akan membagikan sebuah artikel (essay sih lebih tepatnya) yang tergolong berat. Ini adalah buah karya saya dengan dukungan kutipan dari berbagai referensi yang mana saya gunakan untuk syarat berkas mendapatkan beasiswa MORA tahun 2015. Dan alhamdulillah berkat kerja keras, saya tidak lolos seleksi wkwkwkwkw yaahh namanya juga usaha. Hikmahnya sih yang pasti dapat pengalaman (alasan paling mainstream sealam semesta) dan tulisan ini.
Umar
Ibnu Khattab : An example of leadership in Islam
Islam
mengajarkan secara nyata kepada kita akan sebuah kehidupan yang bertaqwa, aman,
damai, dan sejahtera dalam sebuah
kelompok masyarakat. Hal ini dapat dicapai salah satunya dengan memilih
seseorang yang dekat dengan Alllah SWT, dapat memberikan panutan yang baik,
berfikir cerdas, berakhlak kharimah serta mampu menghadapi berbagai macam
persoalan untuk memimpin masyararakat tersebut. Namun memilih pemimpin yang
seperti ini sangatlah susah. Banyak pemimpin kita sekarang yang lupa tugasnya
untuk mensejahterakan masyarakat, yang ada malah bekerja untuk mensejahterakan
diri mereka sendiri.
Menjadi
pemimpin memang bukanlah perkara yang gampang selain dibutuhkan kemampuan leadership yang mumpuni, didalam islam
pemimpin juga harus dari golongan orang yang beriman dan betaqwa. Sehingga bisa
menjadi teladan dan dapat bekerja benar – benar ikhlas untuk rakyat, bukan
penikmat kekayaan rakyat.
Ketika
seorang pemimpin tidak memiliki hubungan yang baik dengan Allah SWT, maka ia
akan berada pada sebuah tekanan dari berbagai kepentingan mengingat banyaknya orang yang mengincar
kursi pemimpin ini, dan pada saat yang sama rasa cinta terhadap jabatan akan
menguat . Disaat itulah pemimpin tidak lagi berfikir lurus dan melupakan ‘amanat’
yang dia tanggung. Dia akan melakukan apa saja untuk mempertahankan jabatan nya
meskipun dijalani dengan cara yang harram. Selain itu kondisi yang seperti ini
juga membuat segala macam keputusan dan kebijakan nya hanya bersandar pada
logika tanpa hati nurani. Sebab hakikatnya bukan rakyat yang ingin dia layani,
tetapi ada kepentingan lain yang harus dia penuhi demi menjaga jabatan dan
memuaskan nafsu dunia nya. Dan dari sinilah muncul istilah pencitraan atau
memasang topeng di depan rakyat agar rakyat terus percaya kepada pemimpin ini
dan mau terus untuk dipimpin oleh si dia, meskipun rakyat tidak tahu bahwa
mereka telah ditusuk dari belakang oleh pemimpin yang seperti ini.
Seperti
yang sudah dijelaskan diatas, pemimpin yang ideal adalah pemimpin yang tidak
hanya memiliki skill leadership tapi juga dekat dengan Allah SWT. Banyak
pemimpin kita sekarang yang memiliki kecerdasan yang tinggi, pengalaman
organisasi yang banyak serta kemampuan leadership yang bagus tapi tidak dekat
dengan Allah SWT malah terjebak kedalam lubang KKN (Korupsi, Kolusi dan
Nepotisme). Hal ini menandakan bahwa hubungan yang baik dengan Allah SWT adalah
sebuah syarat utama untuk menjadi seorang pemimpin. Karena dengan begitu,
segala macam keputusan dan kebijakan nya atas dasar ridho dan restu dari Allah
SWT. Kemampuan lain hanyalah sebagai pendukung.
Menjadi pemimpin harus
lah memiliki pegangan yang kuat dan pasti yaitu kepada Allah SWT bukan kepada
manusia, karena manusia bisa menyesatkan dan Allah tidak.
Banyak orang pintar namun tidak berakhlak,
dan sedikit orang pintar namun mereka berakhlak. Dengan berakhlak, maka mereak
tidak akan berani untuk melupakan tugas dan kewajiban nya sebagai seorang
pemimpin. Dia akan senantiasa memikirkan nasib nasib rakyatnya tanpa memikirkan
kepentingan dia sendiri. Pemimpin yang seperti inilah yang kita rindukan dan
kita butuhkan, bukan seorang pemimpin yang hanya menebar janji dan pencitraan
belaka. Rakyat sudah muak akan pemimpin yang seperti ini rakyat membutuhkan
kejelasan dalam tindakan, dekat dengan rakyat dengan artian sebenarnya, mampu
memberikan contoh dan teladan yang baik utnuk kaum muda, sederhana dan tidak
bekerja untuk kepentingan pribadi. Oleh karena itu, islam telah lama
mengajarkan menjadi pemimpin yang baik dari gambaran salah seorant sahabat nabi
yang bergelar amirul mukminin yaitu
Umar Ibnu Khattab.
Umar Ibnu Khattab, adalah
sosok luar biasa yang tidak hanya memiliki andil yang sangat besar bagi kemajua
islam namun juga bagi seluruh dunia. Beliau adalah salah suri tauladan pemimpin
yang baik didalam pandangan islam bahkan dalam pandangan secara luas. Kepemimpinan
beliau tidak perlu diragukan lagi ditambah sifat zuhud beliau yang semakin
menguatkan karakter pemimpin itu sendiri. Pernah diceritakan dalam riwayat
bahwa kerabat beliau pernah datang kekantor beliau untuk Sberbicara masalah
keluarga yang tidak ada sangkut pautnya dengan masalah negara. Seketika juga
beliau mematikan penerangan yang ada di ruangan beliau. Lantas kerabat tadi
bertanya wahai umar mengapa kau biarkan kita berbicara dalam keadaan gelap
seperti ini, lantas Umar menjawab penerangan ini berasal dari uang rakyat dan
aku tidak ingin memakai uang rakyatku sedikitpun untuk kugunakan untuk hal
pribadiku. Sungguh sangat mulia nya sifat Umar ini. Beliau sangat takut jikalau
memakan hak yang bukan dari haknya sendiri. Kemudian ada salah satu riwayat
lagi bercerita tentang betapa zuhud dan sederhananya Umar ini. Pada suatu
tengah malam ada seorang perempuan yang ingin melahirkan namun tidak ada yang
datang membantunya. Kemudian datang lah Umar tadi menolong si perempuan dalam
proses bersalin nya. Mulai dari mengambil air, mengganti sprei sampai sang anak
dalam kandungan keluar dari rahim ibunya dengan sehat wal afiat hal itu
dilakukan umar dengan hati yang ikhlas. Kemudian perempuan tadi berkata
kemanakah pemimpin kami Umar Ibnu Khattab, disaat rakyatnya membuuhkan
pertolongan kemana beliau pergi ? dia tidak tahu bahwa sedari tadi yang
menolongnya dalam proses persalinan adalah Umar itu sendiri. Subhanallah..
inilah pemimpin yang benar benar kita dambakan pada saat sekarang ini. Pemimpin
yang takut memakan hak nya, zuhud, mau terjun langsung membantu rakyat tanpa
berharap pujian.
Dari
gambaran sosok umar tersebut maka kita dapat menemukan karakterisitik dan
pandangan kepemimpinan dari sudut pandang Islam yang mana ini berlaku tidak
hanya pada zaman dulu saja namun juga sampai akhir zaman dan kriteria serta
sosok pemimpin dalam islam ini wajib hukumnya dimiliki oleh seorang calon pemimpin.
Yaitu :
Pertama, pemimpin wajib
hukumnya bertaqwa kepada Allah SWT. Tanpa hal ini, tidak akan muncul seorang
pemimpin yang hebat dalam memimpin rakyatnya menuju kesejahteraan, aman dan
damai. Pemimpin yang seperti ini tiap langkahnya akan selalu dalam petunjuk
serta bimbingan dari Allah SWT. Sehingga dia tidak akan berani untuk
mempermainkan amanat yang sudah diberikan Allah untuk nya. Hadits riwayat Abu
Hurairah Radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa
sallam, beliau bersabda: “Sesungguhnya seorang pemimpin itu merupakan perisai,
rakyat akan berperang di belakang serta berlindung dengannya. Bila ia
memerintah untuk takwa kepada Allah azza wa jalla serta bertindak adil, maka ia
akan memperoleh pahala. Namun bila ia memerintah dengan selainnya, maka ia akan
mendapatkan akibatnya”. (Hadits Riwayat Muslim).
Kedua shidiq, pemimpin haruslah memiliki
sifat shidiq yaitu benar dan bersungguh
sungguh dalam bersikap, berucap dan bertindak di dalam melaksanakan tugas,
lawannya adalah bohong. Pemimin yang baik tidak akan berani berbohong kepada
rakyatnya apalagi samapi memfitnah orang lain. Karena mereka percaya dan yakin
adalah kejujuran adalah awal dari sebuah kebaikan. Berkata sebenar benarnya
tanpa melebih lebihkan dan tanpa mengurangi.
Ketiga amanah, pemimpin yang baik ialah pemimpin yang amanah yaitu pemimpin yang
mampu menjaga kepercayaan yang diamanahkan kepadanya, baik dari orang-orang
yang dipimpinnya, terlebih lagi dari Allah SWT. Dia tidak akan berani menyalahi
kepercayaan yang telah dititipkan Allah kepada nya. Lawannya adalah khianat.
Sesuai sabda Rasulullah ” Jika seorang pemimpin menyebarkan
keraguan dalam masyarakat, ia akan merusak mereka.” (Riwayat Imam Ahmad, Abu
Dawud, dan Al-hakim).
Keempat fathonah, pemimpin yang baik
ialah pemimpin yang fathonah yaitu pemimpin yang cerdas, cakap, dan handal yang
melahirkan kemampuan menghadapi dan menjawab persoalan yang muncul. Dia
memiliki keterampilan berfikir jernih dan bekerja dibawah tekanan. Mampu
memberikan solusi yang adil terhadap semua persoalan yang datang. Pemimpin yang
fathonah akan selalu melahirkan ide ide dan inovasi yang cemerlang untuk
masyarakat. Dan dapat menjadi suri teladan yang baik untuk para pemuda yang
berfikir kritis, kreatif dan inovatif. Lawannya adalah bodoh.
Kelima adalah
tabligh, yaitu penyampaian secara jujur dan bertanggung jawab atas segala
tindakan yang diambilnya (akuntabilitas dan transparansi). Lawannya adalah
menutup-nutupi (kekurangan) dan melindungi (kesalahan). Sesuai sabda Rasulullah
”Tidaklah seorang pemimpin atau pemerintah yang menutup pintunya terhadap
kebutuhan, hajat, dan kemiskinan kecuali Allah akan menutup pintu-pintu langit
terhadap kebutuhan, hajat, dan kemiskinannya.” (Riwayat Imam Ahmad dan
At-Tirmidzi). Pemimpin yang baik ialah pemimpin yang mau menerima segala macam
kritik yang diberikan kepadanya. Hal itu akan dia jadikan sebagai sebuah
masukan untuk merubah nya menjadi orang yang lebih baik. Bukan bersika
sebaliknya, yaitu merasa tersinggung jika diberitakan kritik dan tidak mau lagi
melaksanakan kewajibanya sebagai pemimpin. Pemimpin haruslah berbadan dan
berhati layak nya sebuah baja yang kuat akan sebuah kritikan dan mau menerima
nya. Hal ini senada dengan gambaran karakter kepemimpinan yang ditunjukkan oleh
Umar Ibnu Khattab. Suatu hari Umar terlibat percakapan dengan salah seorang
rakatnya, orang itu bersikeras dengan pendapatnya dan berkata kepada Amirul
Mukminin, “Takutlah engkau kepada Allah.” Dan, orang itu mengatakan hal itu
berulang kali. Lalu, salah seorang sahabat Umar membentak laki-laki itu dengan
berkata, “Celakalah engkau, engkau terlalu banyak bicara dengan Amirul Mukminin!”
Menyaksikan hal itu, Umar justru berkata, “Biarlah dia, tidak ada kebaikan
dalam diri kalian jika kalian tidak mengatakannya, dan kita tidak ada kebaikan
dalam diri kita jika tidak mendengarnya.”
Dan yang
keenam adalah bersedia terjun langsung mengatasi masalah rakyatnya. Sangat
masyhur (populer) memang di kalangan umat Islam bahwa Umar adalah sosok
pemimpin yang benar-benar merakyat. Tengah malam, saat orang terlelap, ia
justru patroli, mengecek kondisi rakyatnya. “Jangan-jangan ada yang tidak bisa
tidur karena lapar,” begitu mungkin pikirnya.
Begitu ia menemukan seorang ibu yang anak-anaknya menangis karena lapar,
sedangkan tidak ada bahan makanan yang bisa dimasak dan disuguhkan, dengan
segenap daya Umar pergi ke Baitul Maal dan memikul sendiri sekarung gandum
untuk kebutuhan makan keluarga tersebut. Seperti itulah, setidaknya setiap
pemimpin Muslim di negeri ini. Bekerja atas dasar iman, sehingga tidak ada yang
didahulukan selain iman, takwa dan kesejahteraan rakyatnya. Ia ‘blusukan’ malam
hari karena tidak ingin dilihat orang lain, bukan siang hari apalagi hanya
sekedar ingin menampakkan citra baik di dalam dirinya.
Dari gambaran
karakteristik kepemimpinan yang ditunjukkan oleh Umar tadi ialah pengaplikasian
dari karakteristik pemimpin didalam Al-Qur’an dan Hadits maupun perilaku
Rasulullah SAW. Jika keenam hal di atas ada pada diri pemimpin kita insyaAllah
Indonesia ini akan menjadi negara yang aman, damai, dan sejahtera. Karena
pemimpin nya ‘mampu’ dan dapat membiimbing rakyatnya menuju jalan kebaikan.
Jikalau seluruh rakyat Indonesia dapat mengikuti pemimpin yang seperti ini,
maka kebaikan akan selalu diturunkan oleh Allah kepada kita semua. Semoga.
Wallahu a’lam.
Referensi :
Pemimpin dalam perspektif Islam
by zaenal
muttaqien May 16, 2014
[rika/islampos/riau1.kemenag/menaraislam/suaramedia/jakarta45]
Februari 2, 2010 at 12:00 am
Oleh H. MG Hadi Sutjipto *) Penulis
adalah Ketua Takmir Masjid Agung, Sidoarjo, yang kini siap maju dalam
Pemilukada Sidoarjo 2010 sebagai Calon Wakil Bupati


