Sekelebet Cerita Ke Makam Habib Luar Batang (Semoga Berkah Aamin)

Pada weekend kali ini saya akan melakukan perjalanan bersama Ibu saya. Perjalanan kami kali ini bisa dibilang sebagai "the holly trip" karena menuju ketempat acara Haul seorang ulama besar dan sangat dihormati masyarakat. Selain itu beliau juga dikenal sebagai seorang keturunan Nabi Muhammad SAW. Bertempat di Luar Batang, Jakarta. Ya, beliau kita kenal sebagai Habib Luar Batang.

Acara dijadwalkan diadakan pada hari minggu pagi tanggal 23 Juli 2017 pukul 8. Karena diperkirakan harga tiket pesawat pada hari itu akan melambung jauh terbang tingggi, maka saya memutuskan untuk melakukan pemesanan 5 hari sebelum hari H. Dan alhamdulillah melalui traveloka, saya mendapatkan harga tiket Rp. 500.000,- per org dari Banjarmasin ke Jakarta. Dam saya pun melakukan reservadi untuk 2 orang.

Note :
Tiket Pesawat Pergi untuk 2 orang dari BJM - JKT = Rp. 1.000.000,-

Dikarenakan saya pergi bersama Ibu saya maka tidak memungkinkan untuk melakukan perjalanan yg sifatnya "kagetan". Maksudnya adalah tanpa perencanaan tiket, reservasi penginapan, dan bahkan transport. Maka dari itu, semua nya harus dilakukan dengan perencanaan.  Untuk itu setelah mendapatkan tiket pesawat, saya pun langsung mencari penginapan. Dan akhirnya saya mendapatkan penginapan dan langsung melakukan Reservasi disana.

Penginapan tersebut bernama Al - Iman. Terletak di Jl. KH. Mas Mansyur Gang Al Habsyi, Tanah Abang. Dengan harga per hari Rp. 180.000,- dengan fasilitas 2 tempat tidur, AC dan kamar mandi dalam. Serta tempat yg sangat strategis yg sangat dekat dekat dengan pusat perbelanjaan Tanah Abang. Menghubungi via telepon, admin melakukan pelayanan dengan ramah. Sayapun menanyakan ketersediaan kamar untuk hari sabtu nanti tanggal 22 Juli 2017 dan alhamdulillah ada kamar tersedia lalu saya pun melakukan reservasi booking kamar pada hari tersebut.

Note :
Penginapan "Al Iman"
Jl. KH. Mas Mansyur Gang Al Habsyi, Tanah Abang.
Harga : Rp. 180.000,- per hari untuk 2 org
Fasilitas : AC, Kamar Mandi dalam, Tempat Tidur 2.
Nomer telepon : 081296979874
Jadwal Check Out : Jam 2 siang. Kalau lewat, dapat biaya tambahan Rp. 10.000 perjam.

Setelah urusan tiket dan penginapan beres, sayapun bisa sedikit bernafas lega. Kini tinggal menunggu tanggal keberangkatan yg tinggal beberapa hari lagi.

Kini, tanggal 22 Juli 2017 jam 18.00 wita, saya bersama Ibu saya berada di waiting room keberangkatan bandara Syamsuddin Noor Banjarmasin. Karena pesawat berangkat sekitar 2 jam lagi saya pun memutuskan untuk 'membunuh waktu' dengan 2 buku yg saya baca. Ya lumayan lah juga sekalian bisa menghemat batrai smartphone hehehe.

Setelah menunggu 2 jam pesawat pun datang dan meluncur membawa kami menuju Jakarta.

Sesampainya di Jakarta tepatnya di Bandara Soekarno Hatta kami langsung keluar dan menuju stop area untuk taxi resmi bandara. Transport ini saya pilih karena praktis dan aman apalagi jika membawa orang tua maka 2 hal ini sangat perlu untuk diperhatikan. Apalagi saat itu waktu sudah malam dan agak sedikit gerimis jadi sangat tidak memungkinkan untuk mencari transport lain seperti damri misal.

Nah untuk naik transportasi ini seperti yg sudah saya bilang diatas kawan - kawan perlu mencari stop area nya (tepat di batas antara lantai bandara dengan aspal jalan). Taxi ini ada berbagai macam (bluebird, taxiku dll) tergantung sang admin memilihkanya untuk kawan - kawan. Nanti admin akan memberikan kertas berupa call center jika supir taxi tidak memberikan service yg memuaskan. Adapun tarif nya kemanapun dihitung sesuai argo dgn tarif tol serta biaya charge bandara ditanggung penumpang. Nah adapun untuk tujuan saya yaitu dari Bandara Soekarno Hatta ke penginapan Al Iman (Jl. KH. Mas Mansyur Gang Alhabsyi, Tanah Abang) totalnya Rp. 150.000,-

Note :
Taxi Bandara Blue Bird + Tol + Charge Bandara = Rp. 150.000,-

Untuk harga segitu apalagi saya membawa orang tua adalah sangat lumayan. Taxi nya pun terbilang nyaman, ac dingin, bersih dan drivernya ramah.

Sesampainya di depan gang Al Habsyi (karena mobil tidak bisa masuk kedalam) kamipun berjalan kaki menuju penginapan sekitar 5 menit. Setelah melapor ke admin di ruang tamu, kami pun dapat kunci kamar. Dan inilah kamar nya yg sudah kami booking 2 hari yg lalu :





Sebagai catatan, penginapan ini ada memiliki 3 lantai. Untuk lantai pertama kamar mandi + plus wc berada diluar. Sedangkan lantai 2 dan 3 kamar mandi + wc berada didalam. Untuk harga dan info bisa di cek paragrap2 diatas.

Ohya kawan - kawan tidak perlu susah mencari makan disini karena tepat didepan gang banyak orang jual makanan ; nasi goreng, lalapan dll. Tinggal pilih sesuka hatimu senang 😁

Minggu pagi tanggal 23 Juli 2017 seperti kebanyakan kota kota besar di dunia orang sudah ramai memenuhi jalan. Kebetulan juga hari ini adalah weekend orang - orang ada yg bersepeda, jogging, atau hanya duduk - duduk ngobrol sambil ngopi bersama kawan dipinggir jalan. Namun ada juga yg masih terlelap mengganti waktu tidur sehabis datang dari gemerlap dunia malam Jakarta.

Tak terkecuali saya dan ibu saya sehabis beres beres dan dirasa semua keperluan sudah cukup untuk pergi ke Haul Habib kamipun meninggalkan penginapan pada jam 06.30 pagi.

Untuk menuju ke tempat acara dari penginapan, banyak transport yg bisa digunakan seperti : bajaj, taxi grab, taxi argo dll. Perjalanan memakan waktu 30 menit. Dengan biaya :

Note :
Taxi Grab : Rp. 30.000
Bajaj : Rp. 50.000

Dan saya memilih naik Bajaj. Kenapa ? Karena bajaj lebih cepat sampai ketempat tujuan karena mudah untuk masuk gang gang sempit. Selain itu bajaj juga mampu terhindar dari jalan yg berpotensi macet. Meski konsekuensi yg didapatkan adalah lebih mahal dan juga memakai ac alami 😅

Bajaj pun nge - gas dan mulai memainkan lekuk indah tubuhnya untuk melewati gang - gang sempit. Inilah juga yg menjadi nilai plus nya jikalau naik bajaj, anda akan disuguhkan pemandangan "rakyat" banget didalam gang gang sempit. Ada yg nyuci baju, manasin motor, ngobrol sambil ngopi diatas titian siring sungai dll. A wonderful experience!



Nah sesampainya ditempat tujuan anda akan disambut pedagang yg menjual perlengkapan sholat dan juga kaset - kaset rekaman ceramah agama, juga ada minyak wangi dan tentunya gelang - gelang fukah. Dan kini tibalah di TEKAPE :


Ini adalah gerbang utama masuk makam Habib Luar Batang. Karena saya dan ibu datang pagi - pagi sekali makanya suasana disini terlihat renggang. Coba agak siangan dikit, waduh jalan masuk disini sudah sempit sekali karena membludaknya jemaah.

Setelah masuk gerbang utama, langsung saja lurus sekitar 20 m, titip sendal kepada petugas dan lihat disebelah kiri anda akan anda temukan makam beliau.


Acara haul dimulai dari jam 9 pagi sambil menunggu tamu undangan datang acara diisi berbagai pembacaan syair maulid oleh jamaah beliau. Setelah jam 10 maulid berhenti dan dilanjutkan kepada acara inti dengan membaca yassin, tahlil, dan juga do'a serta sambutan dari pihak keluarga.

Ada yg menarik disini. Sebelum ke acara inti, pintu kubah maqam sebelumnya terkunci. Dan jamaah tidak boleh masuk. Namun setelah menjelang pembacaan yassin para tamu undangan pun datang (para habaib dan ulama) dan langsung masuk ke kubah. Namun karena banyaknya jamaah yg ingin masuk, setelah semua tamu masuk semua petugas kewalahan dan lalu seketika membludaklah jamaah untuk ikut masuk kekubah. Sampai sampai saya pun keikut masuk padahal saya tidak bergerak sama sekali karena dorongan dsri belakang yg ingin maju kedepan. Yah syukur aja sih, kapan kapan bisa masuk ke kubah beliau dan seruang bareng para habaib dan ulama hehe.


Lalu acara inti pun dimulai dan jamaah pun khusuk dalam kerendahan hati meminta berkah rahmat dari Allah SWT menggelar haul wali-Nya di tanah Jakarta.



Setelah acara selesai, jangan lupa untuk mengambil berkat nasi samin yg dibagi panitia. Ingat, harus pandai pandai mencari dimana orang sedang membagikan dan harus cepat, kalau telat bisa kehabisan. Kaya saya hehehee.

Saat pulang, anda tinggal jalan kaki menuju ke jalan utama sama seperti anda pertama kali masuk ke komplek makam. Karena angkutan umum jarang ada yg berada di dekat makam. Ya kira kira jalan 10 menit lah hitung hitung olahraga. Hehe.

Dan saya menyarankan anda untuk naik bajaj lagi untuk pulangnya. Karena saat pulang, saat dimana orang pada jam istirahat kantor. Jadi, jalan penuh sesak.

Note :
Bajaj Menuju Penginapan : Rp. 50.000

Sesampainya di penginapan. Anda bisa langsung beristirahat dengan tenang nyaman, dan hati puas.

Nah itulah sedikit kisah perjalanan saya dan ibu mendatangi acara Haul Habib luar batang. Semoga tahun depan bisa kesana lagi (aamin) dan semoga catatan kecil ini bisa sedikit memberi bantuan kepada kawan - kawan yg nanti ingin menghadiri acara beliau atau pengen ziarah ke makam beliau tapi tidak mengetahui akomodasi selama disana. Bila ada yg ditanya, langsung komen dibawah atau hubungi saja nomer saya. Semoga bermanfaat. See yoooou!

Note :
Saran saya untuk yg berada diluar pulau jawa. Pesan lah tiket pesawat secara PP. Karena saat itu banyak yg pergi ke acara. Otomatis banyak juga yg pulangnya berbarengan. Jikalau pesan tiket pulang H-1 atau H -2, bisa dipastikan harga tiket bakal melambung tinggi. Untuk itu, rencanakan schedule anda jauh jauh hari dan pesanlah tiket secara PP.

Menang Kuis BNPT~

Bermula dari mensyen-an temen di twitter (sisa sisa angkatan 94 yg masih aktif main 😂) tentang kuis yg diadakan oleh BNPT. Semula sih gak terlalu tertarik sampai - sampai mensyen-an tsb saya diamkan selama satu hari. Namun hari berikutnya berangkat dari rasa iseng saya mencoba ikut meramaikan kuis tersebut. Adapun kuisnya seperti ini :



Jadi, dalam rangka HUT BNPT yg ke 7. Eh sebelumnya tau kan apa itu BNPT ? oke, BNPT adalah singkatan dari Badan Nasional Penanggulangan Terorisme. Simple nya badan ini terbentuk untuk membidangi masalah - masalah Terorisme di Indonesia.

Oke kembali lagi. Nah untuk memperingati ulang tahun nya BNPT mengadakan kuis di twitter untuk menjawab pertanyaan "Bagaimana Cara Kalian Menjaga Keutuhan dan Perdamaian Di Tengah Keberagaman?" Untuk 3 orang pemenang maka akan mendapatkan bingkisan yg menarik dari BNPT.

Semula kata saya tadi saya enggan untuk ikutan, namun setelah saya baca seluruh petunjuk kuis maka berubah 180 derajatlah keputusan saya tsb. Mengingat syarat nya gak neko neko, hanya follow akun @BNPT, terus tambahin tagar #DamaiDalamKebhinnekaan saya rasa gak salahnya mencoba.

Dengan modal iseng + rasa pede sedikit (ea) saya jawab pertanyaan tsb dengan :




Tanpa ada beban dan pengharapan yg menggebu - gebu untuk menang lalu saya kirim jawaban tsb dan saya diamkan selama 2 hari. Hari ke tiga setelah saya kirim jawaban tsb saya di chat oleh temen yg ngjak ikut lomba itu, di nge chat sambil kirim gambar begini :

"Oiyyy cuyy, kita menang 😂😂 wkwkw"



"Lha kok menang?" 😂
Tentu dong setelah membaca chat temen diatas senangnya bukan main. Pertama, jawaban saya ternyata diapresiasi serta disetujui bahkan dipilih untuk menjadi pemenang diantara jawaban - jawaban lain seputar cara menjaga kebhinnekaan. Kedua, hadiahnya berupa buku tentang terrorisme ; bahayanya, jenisnya, serta cara menanggulanginya. Nah buku - buku seperti Ini sangat penting menurut saya karena di zaman sekarang aksi terror mulai bermunculan. Untuk itu kita harus mampu melawannya dari sekarang. Kalau tidak, bisaa berabeeee nanti urusanya.

Setelah pengumuman, malam nya saya di dm oleh pihak BNPT menanyakan alamat rumah. Nah 2 hari setelahnya yg ditunggu - tunggu pun datang. Mau lihat ? Nooooooh :



Semula saya kaget melihat kiriman ini. Kiriman dengan jam dinding, dan buku didalamnya dibungkus dengan kayu yg menutup hampir sekelilingya. Bergumam juga dalam hati "masa untuk jam dinding dan buku harus pakai pelindung kayu?" Ahh setaaan. Tak penting lah menurut saya karena yg penting adalah isinya hahaha.

Setelah saya buka. Hadiahnya pun nyembul keluar :



Taraaaaanggg...
Ya, hadiahnya berisi jam dinding, 4 buku yg sangat bermanfaat, 2 brosur dan tas goodie bag bertuliskan HUT BNPT #DamaiDalamKebhinnekaan.

Untuk itu bersama tulisan ini saya mengucapkan terimakasih banyak kepada pihak BNPT telah memilih saya menjadi pemenang. Juga saya ucapkan selamat Ulang Tahun yg Ke 7 kepada BNPT semoga terus menjadi Badan Nasional yg kuat, sigap dan solid untuk melindungi masyarakat dari bahaya - bahaya terorisme.

Dan untuk kepada teman teman sekalian. Mari kita sama sama jaga "rumah" ini. Jangan sampai jatuh kepada Teroris yg ingin menghancurkan atau merubah negara ini dengan versi mereka dengan memanfaatkan kebencian akan perbedaan didalam masyarakat.

Mari sama sama tebarkan pesan kedamaian dalam kebhinnekaan.
Karena ber bhinneka itu indah, karena indah itu Bhinneka Tunggal Ika.

Ayo ramaikan tagarnya ! 😁 #DamaiDalamKebhinekaan

HTI, Kalau Kata Ariel : Buka Dulu Topengmu~

Jadi begini. Perppu tentang ormas radikal dan anti pancasila telah diterbitkan oleh pemerintah. Tentu, hal ini sangat mengganggu "stabilitas nasional" orang - orang HTI (langsung sebut saja lah). Dengan segala cara, mereka mulai merubah wajah dengan mengatakan : I love Pancasilaaaa, NKRI dihatikuuu. Oughcc...benarkah demikian ? Bukan kah Perppu itu diterbitkan oleh karena hadirnyaa dirimu kasih eh HTI ini ?

Masih banyak sekali masyarakat awam yg tidak tahu menahu apa sebenarnya tujuan dari HTI ini eksis di suatu negara. Dengan "bungkus" kejayaan Khalifah Islam terdahulu mereka mulai membagikan rayuan gombalnya kepada masyarakat awam untuk diterapkan dan mengganti sistem yg sudah lama diterapkan oleh alim ulama dan pahlawan kita yaitu Pancasila. Padahal jikalau di teliti lebih dalam, masa masa kekhalifahan adalah masa yg kelam dimana saat itu dipenuhi dengan intrik perebutan kekuasaan, pembunuhan, saling racun, sembelih dsb. Dan Rasulullah pun tidak menyuruh untuk suatu negara ber sistem khilafah. Rasulullah membebaskan suatu negara ber sistem apapun asalkan tidak bertentangan dengan Aqidah islam dan mampu mensejahterakan masyarakatnya.

Banyak sekali pertimbangan oleh pemerintah untuk mensahkan Perppu ini. Tentu, pemerintah akan selalu menjaga kedaulatan NKRI tercinta ini dari sengatan orang - orang yg ingin merubah ideologinya. Sebut saja HTI ini. Ya. HTI sangat ngotot sekali untuk merubah Pancasila dengan sistem khilafah ala mereka. Lebih parahnya, mereka bahkan tak segan menganggap Pancasila adalah kafir dan Syirik. (Wawww). Lalu muncul pertanyaan. Benarkah HTI demikian ? Bukan kan kah akhir akhir ini HTI sering mengatakan bahwa mereka adalah ormas yg taat Pancasila ? Eitssss. Baik mari kita simak link - link berita dibawah.

Link - link dibawah ini adalah bukti bahwa kecintaan HTI terhadap Pancasila adalah topeng untuk menutup identitas nya agar mereka tidak dibubarkan oleh Perppu kita yg terbaru. Silahkan disimak.
Beberapa link dari Website resmi milik HTI, mulai dari tahun 2011-2015 sebelum pemerintah secara resmi akan membubarkan HTI.












Jadi, Masihkah anda percaya dengan Jubir HTI yang mengatakan bahwa HTI tidak menolak Pancasila?
HTI kalau sudah kepepet baru nganggap sodara, pura-pura Cinta NKRI & PANCASILA, itulah yang sedang dimainkan oleh Jubir HTI.


Perppu Ormas di Indonesia : SAH!

Selesai sudah. Pada tanggal ini, Rabu 12 Juli 2017 telah disahkan Perppu yg mengatur ormas di Indonesia. Jelas disana dikatakan bahwa ormas yg bertentangan dengan Pancasila dan yg tidak bervisi misi persatuan - kesatuan akan ditindak secara hukum.
Inilah yg telah lama ditunggu - tunggu masyarakat. Terlalu lama rasanya masyarakat dibuat gelisah galau merana oleh ormas - ormas seperti demikian. Sebelumnya masyarakat dan pemerintah dibuat tidak berdaya oleh karena tidak ada landasan hukum yg melarang ormas - ormas tsb untuk di stop langkahnya. Kini, masyarakat bisa sedikit lega. Pemerintah sudah punya instrumen yg kuat untuk menindak ormas yg dirasa bisa mengancam kedaulatan NKRI tercinta.

Kini, tinggal pengawasan serta penegakkan yg tegas dari seluruh unsur masyarakat agar Perppu ini bisa dijalankan dengan sebaik - baiknya. Dan tak lupa yg kalah penting nya adalah pendidikan. Mustahil bila hukum hanya ditegakkan tanpa adanya pendidikan kepada masyarakat tentang pentingnya persatuan dan kesatuan serta kecintaan terhadap NKRI ini. Semoga, masyarakat dan pemerintah bisa bersinergi untuk Indonesia yg lebih baik.

Dibawah adalah link resmi untuk mendownload Perppu tsb. Ditambah dengan link berita resmi atas terbitnya Perppu ini.

https://www.setneg.go.id/index.php?option=com_perundangan&id=405560&task=detail&catid=2&Itemid=42&tahun=2017
(Link Unduhan Perppu No 2 Tahun 2017 dari Web Resmi Sekretariat Negara RI)

https://drive.google.com/file/d/0BzuhdTh8eZn2XzJDcE9UQ29oU0U/view?usp=drivesdk
(Link Unduhan Perppu No 2 Tahun 2017  tentang PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 17 TAHUN 2013 TENTANG ORGANISASI KEMASYARAKATAN)
-------------------------------------------------------------
https://polkam.go.id/penjelasan-pemerintah-tentang-peraturan-pemerintah-pengganti-undang-undang-republik-indonesia-perppu-nomor-2-tahun-2017-tentang-perubahan-atas-undang-undang-nomor-17-tahun-2013-tentang-organisasi-k/

http://setkab.go.id/inilah-perppu-no-22017-tentang-perubahan-uu-no-172013-tentang-organisasi-kemasyarakatan/

http://setkab.go.id/menko-polhukam-perppu-no-22017-tidak-bermaksud-mendiskreditkan-ormas-islam/

http://www.kemendagri.go.id/news/2017/07/12/pemerintah-segera-terbitkan-perppu-ormas

http:/www.metrotvnews.com/amp/lKYMaAAK-wiranto-perppu-diterbitkan-bukan-untuk-batasi-ormas

https://twitter.com/Metro_TV/status/885007201525526529

Sumber :

-Video Press Release Metro Tv oleh Menkopolhukam atas Perppu No 2 Tahun 2017 tentang PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 17 TAHUN 2013 TENTANG ORGANISASI KEMASYARAKATAN )
-Website Resmi Kemenkopolhukam RI
-Website Resmi Sekretariat Kabinet RI
-Website Resmi Kemendagri
-Website Resmi Sekretariat Negara RI

Islam Nusantara : Serapan Islam Dari Rasulullah Hingga Ulama - Ulama Terdahulu Khusus Untuk Indonesia.

Sebelum membaca jangan lupa sambil ngopi biar nyante, panjang banget soalnya. Kkkkk

===============================

Alhamdulillah, akhir-akhir ini orang merasakan manfaatnya Nahdlatul Ulama (NU). Dulu, orang yang paling bahagia, paling sering merasakan berkahnya NU adalah keluarga orang yang sudah meninggal : setiap hari dikirimi doa dan tumpeng.

Hari ini begitu dunia dilanda kekacauan, ketika Dunia Islam galau: di Afganistan perang sesama Islam, di Suriah perang sesama Islam, di Irak, perang sesama Islam. Semua ingin tahu, ketika semua sudah jebol, kok ada yang masih utuh: Islam di Indonesia.

Akhirnya semua ingin kesini, seperti apa Islam di Indonesia kok masih utuh. Akhirnya semua sepakat: utuhnya Islam di Indonesia itu karena memiliki jamiyyah NU. Akhirnya semua pingin tahu NU itu seperti apa.

Ternyata, jaman dulu ada orang Belanda yang sudah menceritakan santri NU,  namanya Christia Snouck Hurgronje. Dia ini hafal Alquran, Sahih Bukhori, Sahih Muslim, Alfiyyah Ibnu Malik, Fathul Mu’in , tapi tidak islam, sebab tugasnya menghancurkan Islam Indonesia.

Mengapa? Karena Islam Indonesia selalu melawan Belanda. Sultan Hasanuddin, santri. Pangeran Diponegoro atau Mbah Abdul Hamid, santri. Sultan Agung, santri. Mbah Zaenal Mustofa, santri. Semua santri kok melawan Belanda.

Akhirnya ada orang belajar secara khusus tentang Islam, untuk mencari rahasia bagaimana caranya Islam Indonesia ini remuk. Snouck Hurgronje masuk ke Indonesia dengan menyamar namanya Syekh Abdul Ghaffar. Dia belajar Islam, menghafalkan Alquran dan Hadis di Arab. Maka akhirnya paham betul Islam.

Hanya saja begitu ke Indonesia, Snouck Hurgronje bingung: mencari Islam dengan wajah Islam, tidak ketemu. Ternyata Islam yang dibayangkan dan dipelajari Snouck Hurgronje itu tidak ada.

Mencari Allah disini tidak ketemu, ketemunya Pangeran. Ketemunya Gusti. Padahal ada pangeran namanya Pangeran Diponegoro. Ada Gusti namanya Gusti Kanjeng. Mencari istilah shalat tidak ketemu, ketemunya sembahyang. Mencari syaikhun, ustadzun , tidak ketemu, ketemunya kiai. Padahal ada nama kerbau namanya kiai slamet. Mencari mushalla tidak ketemu, ketemunya langgar.

Maka, ketika Snouck Hurgronje bingung, dia dibantu Van Der Plas. Ia menyamar dengan nama Syekh Abdurrahman. Mereka memulai dengan belajar bahasa Jawa. Karena ketika masuk Indonesia, mereka sudah bisa bahasa Indonesia, bahasa Melayu, tapi tidak bisa bahasa Jawa.

Begitu belajar bahasa Jawa, mereka bingung, strees. Orang disini makanannya nasi (sego).  Snouck Hurgronje dan Van Der Plas tahu bahasa beras itu, bahasa inggrisnya rice, bahasa arabnya ar-ruz .

Yang disebut ruz, ketika di sawah, namanya pari, padi. Disana masih ruz, rice. Begitu padi dipanen, namanya ulen-ulen, ulenan. Disana masih ruz, rice. Jadi ilmunya sudah mulai kucluk , korslet.

Begitu ditutu, ditumbuk, digiling, mereka masih mahami ruz, rice , padahal disini sudah dinamai gabah. Begitu dibuka, disini namanya beras, disana masih ruz, rice . Begitu bukanya cuil, disini namanya menir, disana masih ruz, rice. Begitu dimasak, disini sudah dinamai sego , nasi, disana masih ruz, rice.

Begitu diambil cicak satu, disini namanya
upa, disana namanya masih ruz, rice. Begitu dibungkus daun pisang, disini namanya lontong, sana masih ruz, rice. Begitu dibungkus janur kuning namanya ketupat, sana masih ruz, rice. Ketika diaduk dan hancur, lembut, disini namanya bubur, sana namanya masih ruz, rice.

Inilah bangsa aneh, yang membuat Snouck Hurgronje judeg, pusing.

Mempelajari Islam Indonesia tidak paham, akhirnya mencirikan Islam Indonesia dengan tiga hal. Pertama, kethune miring sarunge nglinting (berkopiah miring dan bersarung ngelinting). Kedua, mambu rokok (bau rokok). Ketiga, tangane gudigen (tangannya berpenyakit kulit).

Cuma tiga hal itu catatan (pencirian Islam Indonesia) Snouck Hurgronje di Perpustakaan Leiden, Belanda. Tidak pernah ada cerita apa-apa, yang lain sudah biasa. Maka, jangankan  Snouck Hurgronje, orang Indonesia saja kadang tidak paham dengan Islam Indonesia, karena kelamaan di tanah Arab.

Lihat tetangga pujian, karena tidak paham, bilang bid’ah . Melihat tetangga menyembelih ayam untuk tumpengan, dibilang bid’ah. Padahal itu produk Islam Indonesia. Kelamaan diluar Indonesia, jadi tidak paham. Masuk kesini sudah kemlinthi, sok-sokan, memanggil Nabi dengan sebutan “Muhammad” (saja). Padahal, disini, tukang bakso saja dipanggil “Mas”. Padahal orang Jawa nyebutnya Kanjeng Nabi.

Lha , akhir-akhir ini semakin banyak yang tidak paham Islam Indonesia. Kenapa? Karena Islam Indonesia keluar dari rumus-rumus Islam dunia, Islam pada umumnya. Kenapa? Karena Islam Indonesia ini saripati (essensi) Islam yang paling baik yang ada di dunia.

Kenapa? Karena Islam tumbuhnya tidak disini, tetapi di Arab. Rasulullah orang Arab. Bahasanya bahasa Arab. Yang dimakan juga makanan Arab. Budayanya budaya Arab. Kemudian Islam datang kesini, ke Indonesia.

Kalau Islam masuk ke Afrika itu mudah, tidak sulit, karena waktu itu peradaban mereka masih belum maju, belum terdidik. Orang belum terdidik itu mudah dijajah. Seperti pilkada, misalnya, diberi Rp 20.000 atau mie instan sebungkus, beres. Kalau mengajak orang berpendidikan, sulit, dikasih uang Rp 10 juta belum tentu mau.

Islam datang ke Eropa juga dalam keadaan terpuruk. Tetapi Islam datang kesini, mikir-mikir dulu, karena bangsa di Nusantara ini sedang kuat-kuatnya. Bangsa anda sekalian ini bukan bangsa kecoak. Ini karena ketika itu sedang ada dalam kekuasaan negara terkuat yang menguasai 2/3 dunia, namanya Majapahit.

Majapahit ini bukan negara sembarangan. Universitas terbesar di dunia ada di Majapahit, namanya Nalanda. Hukum politik terbaik dunia yang menjadi rujukan adanya di Indonesia, waktu itu ada di Jawa, kitabnya bernama Negarakertagama. Hukum sosial terbaik ada di Jawa, namanya Sutasoma. Bangsa ini tidak bisa ditipu, karena orangnya pintar-pintar dan kaya-raya.

Cerita surga di Jawa itu tidak laku. Surga itu (dalam penggambaran Alquran): tajri min tahtihal anhaar (airnya mengalir), seperti kali. Kata orang disini: “mencari air kok sampai surga segala? Disini itu, sawah semua airnya mengalir.” Artinya, pasti bukan itu yang diceritakan para ulama penyebar Islam. Cerita surga tentang buahnya banyak juga tidak, karena disini juga banyak buah. Artinya dakwah disini tidak mudah.

Diceritain pangeran, orang Jawa sudah punya Sanghyang Widhi. Diceritain Ka’bah orang jawa juga sudah punya stupa: sama-sama batunya dan tengahnya sama berlubangnya. Dijelaskan menggunakan tugu Jabal Rahmah, orang Jawa punya Lingga Yoni.

Dijelaskan memakai hari raya kurban, orang Jawa punya peringatan hari raya kedri. Sudah lengkap. Islam datang membawa harta-benda, orang Jawa juga tidak doyan. Kenapa? Orang Jawa pada waktu itu beragama hindu. Hindu itu berprinsip yang boleh bicara agama adalah orang Brahmana, kasta yang sudah tidak membicarakan dunia.

Dibawah Brahmana ada kasta Ksatria, seperti kalau sekarang Gubernur atau Bupati. Ini juga tidak boleh bicara agama, karena masih ngurusin dunia. Dibawah itu ada kasta namanya Wesya (Waisya), kastanya pegawai negeri. Kasta ini tidak boleh bicara agama.

Di bawah itu ada petani, pedagang dan saudagar, ini kastanya Sudra . Kasta ini juga tidak boleh bicara agama. Jadi kalau ada cerita Islam dibawa oleh para saudagar, tidak bisa dterima akal. Secara teori ilmu pengetahuan ditolak, karena saudagar itu Sudra dan Sudra tidak boleh bicara soal agama.

Yang cerita Islam dibawa saudagar ini karena saking judeg-nya, bingungnya memahami Islam di Indonesia. Dibawahnya ada kasta paria, yang hidup dengan meminta-minta, mengemis. Dibawah Paria ada pencopet, namanya kasta Tucca. Dibawah Tucca ada maling, pencuri, namanya kasta Mlecca. Dibawahnya lagi ada begal, perampok, namanya kasta Candala.

Anak-anak muda NU harus tahu. Itu semua nantinya terkait dengan Nahdlatul Ulama. Akhirnya para ulama kepingin, ada tempat begitu bagusnya, mencoba diislamkan. Ulama-ulama dikirim ke sini.

Namun mereka menghadapi masalah, karena orang-orang disini mau memakan manusia. Namanya aliran Bhirawa. Munculnya dari Syiwa. Mengapa ganti Syiwa, karena Hindu Brahma bermasalah. Hindu Brahma, orang Jawa bisa melakukan tetapi matinya sulit. Sebab orang Brahma matinya harus moksa atau murco.

Untuk moksa harus melakukan upawasa. Upawasa itu tidak makan, tidak minum, tidak ngumpulin istri, kemudian badannya menyusut menjadi kecil dan menghilang. Kadang ada yang sudah menyusut menjadi kecil, tidak bisa hilang, gagal moksa, karena teringat kambingnya, hartanya. Lha ini terus menjadi jenglot atau batara karang.

Jika anda menemukan jenglot ini, jangan dijual mahal karena itu produk gagal moksa. Pada akhirnya, ada yang mencari ilmu yang lebih mudah, namanya ilmu ngrogoh sukmo . Supaya bisa mendapat ilmu ini, mencari ajar dari Kali. Kali itu dari Durga. Durga itu dari Syiwa, mengajarkan Pancamakara.

Supaya bisa ngrogoh sukmo, semua sahwat badan dikenyangi, laki-laki perempuan melingkar telanjang, menghadap arak dan ingkung daging manusia. Supaya syahwat bawah perut tenang, dikenyangi dengan seks bebas. Sisa-sisanya sekarang ada di Gunung Kemukus.

Supaya perut tenang, makan tumpeng. Supaya pikiran tenang, tidak banyak pikiran, minum arak. Agar ketika sukma keluar dari badan, badan tidak bergerak, makan daging manusia. Maka jangan heran kalau muncul orang-orang macam Sumanto.

Ketika sudah pada bisa ngrogoh sukmo, ketika sukmanya pergi di ajak mencuri namanya
ngepet . Sukmanya pergi diajak membunuh manusia namanya santet. Ketika sukmanya diajak pergi diajak mencintai wanita namanya pelet. Maka kemudian di Jawa tumbuh ilmu santet, pelet dan ngepet.

Ada 1.500 ulama yang dipimpin Sayyid Aliyudin habis di-ingkung oleh orang Jawa pengamal Ngrogoh Sukma. Untuk menghindari pembunuhan lagi, maka Khalifah Turki Utsmani mengirim kembali tentara ulama dari Iran, yang tidak bisa dimakan orang Jawa.

Nama ulama itu Sayyid Syamsuddin Albaqir Alfarsi. Karena lidah orang Jawa sulit menyebutnya, kemudian di Jawa terkenal dengan sebutan Syekh Subakir. Di Jawa ini di duduki bala tentara Syekh Subakir, kemudian mereka diusir.

Ada yang lari ke Pantai Selatan, Karang Bolong, Srandil Cicalap, Pelabuhan Ratu, dan Banten. Di namai Banten, di ambil dari bahasa Sansekerta, artinya Tumbal. Yang lari ke timur, naik Gunung Lawu, Gunung Kawi, Alas Purwo Banyuwangi (Blambangan). Disana mereka dipimpin Menak Sembuyu dan Bajul Sengoro.

Karena Syekh Subakir sepuh, maka pasukannya dilanjutkan kedua muridnya namanya Mbah Ishak (Maulana Ishak) dan Mbah Brahim (Ibrahim Asmoroqondi). Mereka melanjutkan pengejaran. Menak Sembuyu menyerah, anak perempuannya bernama Dewi Sekardadu dinikahi Mbah Ishak, melahirkan Raden Ainul Yaqin Sunan Giri yang dimakamkan di Gresik.

Sebagian lari ke Bali, sebagian lari ke Kediri, menyembah Patung Totok Kerot, diuber Sunan Bonang, akhirnya menyerah. Setelah menyerah, melingkarnya tetap dibiarkan tetapi jangan telanjang, arak diganti air biasa, ingkung manusia diganti ayam, matra ngrogoh sukmo diganti kalimat tauhid; laailaahaillallah. Maka kita punya adat tumpengan.

Kalau ada orang banyak komentar mem-bid’ah -kan, ceritakanlah ini. Kalau ngeyel, didatangi: tabok mulutnya. Ini perlu diruntutkan, karena NU termasuk yang masih mengurusi beginian.

Habis itu dikirim ulama yang khusus mengajar ngaji, namanya Sayyid Jamaluddin al-Husaini al-Kabir. Mendarat di Semarang dan menetap di daerah Merapi. Orang Jawa sulit mengucapkan, maka menyebutnya Syekh Jumadil Kubro.

Disana dia punya murid namanya Syamsuddin, pindah ke Jawa Barat, membuat pesantren puro di daerah Karawang. Punya murid bernama Datuk Kahfi, pindah ke Amparan Jati, Cirebon. Punya murid Syarif Hidayatullah Sunan Gunung Jati. Inilah yang bertugas mengislamkan Padjajaran. Maka kemudian ada Rara Santang, Kian Santang dan Walangsungsang.

Nah , Syekh Jumadil Kubro punya putra punya anak bernama Maulana Ishak dan Ibrahim Asmoroqondi, bapaknya Walisongo. Mbah Ishak melahirkan Sunan Giri. Mbah Ibrahim punya anak Sunan Ampel. Inilah yang bertugas mengislamkan Majapahit.

Mengislamkan Majapahit itu tidak mudah. Majapahit orangnya pinter-pinter. Majapahit Hindu, sedangkan Sunan Ampel Islam. Ibarat sawah ditanami padi, kok malah ditanami pisang. Kalau anda begitu, pohon pisang anda bisa ditebang.

Sunan Ampel berpikir bagaimana caranya? Akhirnya beliau mendapat petunjuk ayat Alquran. Dalam surat Al-Fath, 48:29 disebutkan : ".... masaluhum fit tawrat wa masaluhum fil injil ka zar’in ahraja sat’ahu fa azarahu fastagladza fastawa ‘ala sukıhi yu’jibuz zurraa, li yagidza bihimul kuffar………”

Artinya: “…………Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya, maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin)……………”

Islam itu seperti tanaman yang memiliki anak-anaknya, kemudian hamil, kemudian berbuah, ibu dan anaknya bersama memenuhi pasar, menakuti orang kafir. Tanaman apa yang keluar anaknya dulu baru kemudian ibunya hamil? Jawabannya adalah padi.

Maka kemudian Sunan Ampel dalam menanam Islam seperti menanam padi. Kalau menanam padi tidak di atas tanah, tetapi dibawah tanah, kalau diatas tanah nanti dipatok ayam, dimakan tikus.

Mau menanam Allah, disini sudah ada istilah pangeran. Mau menanam shalat, disini sudah ada istilah sembahyang. Mau menanam syaikhun, ustadzun, disini sudah ada kiai. Menanam tilmidzun, muridun , disini sudah ada shastri, kemudian dinamani santri. Inilah ulama dulu, menanamnya tidak kelihatan.

Menanamnya pelan-pelan, sedikit demi sedikit: kalimat syahadat, jadi kalimasada. Syahadatain, jadi sekaten. Mushalla, jadi langgar. Sampai itu jadi bahasa masyarakat. Yang paling sulit mememberi pengertian orang Jawa tentang mati.

Kalau Hindu kan ada reinkarnasi. Kalau dalam Islam, mati ya mati (tidak kembali ke dunia). Ini paling sulit, butuh strategi kebudayaan. Ini pekerjaan paling revolusioner waktu itu. Tidak main-main, karena ini prinsip. Prinsip inna lillahi wa inna ilaihi rajiun berhadapan dengan reinkarnasi. Bagaimana caranya?

Oleh Sunan Ampel, inna lillahi wa inna ilaihi rajiun kemudian di-Jawa-kan: Ojo Lali Sangkan Paraning Dumadi.

Setelah lama diamati oleh Sunan Ampel, ternyata orang Jawa suka tembang, nembang, nyanyi. Beliau kemudian mengambil pilihan: mengajarkan hal yang sulit itu dengan tembang. Orang Jawa memang begitu, mudah hafal dengan tembang.

Orang Jawa, kehilangan istri saja tidak lapor polisi, tapi nyanyi: ndang baliyo, Sri, ndang baliyo . Lihat lintang, nyanyi: yen ing tawang ono lintang, cah ayu. Lihat bebek, nyanyi: bebek adus kali nyucuki sabun wangi. Lihat enthok: menthok, menthok, tak kandhani, mung rupamu. Orang Jawa suka nyanyi, itulah yang jadi pelajaran. Bahkan, lihat silit (pantat) saja nyanyi: … ndemok silit, gudighen.

Maka akhirnya, sesuatu yang paling sulit, berat, itu ditembangkan. Innalillahi wa inna ilaihi rajiun diwujudkan dalam bentuk tembang bernama Macapat . Apa artinya Macapat? Bahwa orang hidup harus bisa membaca perkara Empat.

Keempat perkara itu adalah teman nyawa yang berada dalam raga ketika turun di dunia. Nyawa itu produk akhirat. Kalau raga produk dunia. Produk dunia makanannya dunia, seperti makan. Yang dimakan, sampah padatnya keluar lewat pintu belakang, yang cair keluar lewat pintu depan.

Ada sari makanan yang disimpan, namanya mani (sperma). Kalau mani ini penuh, bapak akan mencari ibu, ibu mencari bapak, kemudian dicampur dan dititipkan di rahim ibu. Tiga bulan jadi segumpal darah, empat bulan jadi segumpal daging. Inilah produk dunia.

Begitu jadi segumpal daging, nyawa dipanggil. “Dul, turun ya,”. “Iya, Ya Allah”. “Alastu birabbikum?” (apakah kamu lupa kalau aku Tuhanmu?). “Qalu balaa sahidnya,” (Iya Ya Allah, saya jadi saksi-Mu), jawab sang nyawa,. ”fanfuhur ruuh” (maka ditiupkanlah ruh itu ke daging). Maka daging itu menjadi hidup. Kalau tidak ditiup nyawa, tidak hidup daging ini. (lihat, a.l.: Q.S. Al-A’raf, 7:172, As-Sajdah: 7 -10, Al-Mu’min: 67, ed. )

Kemudian, setelah sembilan bulan, ruh itu keluar dengan bungkusnya, yaitu jasad. Adapun jasadnya sesuai dengan orang tuanya: kalau orang tuanya pesek anaknya ya pesek; orang tuanya hidungnya mancung anaknya ya mancung; orang tuanya hitam anaknya ya hitam; kalau orang tuanya ganteng dan cantik, lahirnya ya cantik dan ganteng.

Itu disebut Tembang Mocopat: orang hidup harus membaca perkara empat. Keempat itu adalah teman nyawa yang menyertai manusia ke dunia, ada di dalam jasad. Nyawa itu ditemani empat: dua adalah Iblis yang bertugas menyesatkan, dan dua malaikat yang bertugas nggandoli, menahan. Jin qarin dan hafadzah.

Itu oleh Sunan Ampel disebut Dulur Papat Limo Pancer. Ini metode mengajar. Maka pancer ini kalau mau butuh apa-apa bisa memapakai dulur tengen (teman kanan) atau dulur kiwo (teman kiri). Kalau pancer kok ingin istri cantik, memakai jalan kanan, yang di baca Ya Rahmanu Ya Rahimu tujuh hari di masjid, yang wanita nantinya juga akan cinta.

Tidak mau dulur tengen, ya memakai yang kiri, yang dibaca aji-aji Jaran Goyang, ya si wanita jadinya cinta, sama saja. Kepingin perkasa, kalau memakai kanan yang dipakai kalimah La haula wala quwwata illa billahil ‘aliyyil ‘adzim . Tak mau yang kanan ya memakai yang kiri, yang dibaca aji-aji Bondowoso, kemudian bisa perkasa.

Mau kaya kalau memakai jalan kanan ya shalat dhuha dan membaca Ya Fattaahu Ya Razzaaqu , kaya. Kalau tidak mau jalan kanan ya jalan kiri, membawa kambing kendhit naik ke gunung kawi, nanti pulang kaya.

Maka, kiai dengan dukun itu sama; sama hebatnya kalau tirakatnya kuat. Kiai yang ‘alim dengan dukun yang tak pernah mandi, jika sama tirakatnya, ya sama saktinya: sama-sama bisa mencari barang hilang. Sama terangnya. Bedanya: satu terangnya lampu dan satunya terang rumah terbakar.

Satu mencari ayam dengan lampu senter, ayamnya ketemu dan senternya utuh; sedangkan yang satu mencari dengan blarak (daun kelapa kering yang dibakar), ayamnya ketemu, hanya blarak-nya habis terbakar. Itu bedanya nur dengan nar.

Maka manusia ini jalannya dijalankan seperti tembang yang awalan, Maskumambang: kemambange nyowo medun ngalam ndunyo , sabut ngapati, mitoni , ini rohaninya, jasmaninya ketika dipasrahkan bidan untuk imunisasi.

Maka menurut NU ada ngapati, mitoni,
karena itu turunnya nyawa. Setelah Maskumambang, manusia mengalami tembang Mijil. Bakal Mijil : lahir laki-laki dan perempuan. Kalau lahir laki-laki aqiqahnya kambing dua, kalau lahir perempuan aqiqahnya kambing satu.

Setelah Mijil, tembangnya Kinanti. Anak-anak kecil itu, bekalilah dengan agama, dengan akhlak. Tidak mau ngaji, pukul. Masukkan ke TPQ, ke Raudlatul Athfal (RA). Waktunya ngaji kok tidak mau ngaji, malah main layangan, potong saja benangnya. Waktu ngaji kok malah mancing, potong saja kailnya.

Anak Kinanti ini waktunya sekolah dan ngaji. Dibekali dengan agama, akhlak. Kalau tidak, nanti keburu masuk tembang Sinom: bakal menjadi anak muda (cah enom), sudah mulai ndablek, bandel.

Apalagi, setelah Sinom, tembangnya asmorodono , mulai jatuh cinta. Tai kucing serasa coklat. Tidak bisa di nasehati. Setelah itu manusia disusul tembang Gambuh , laki-laki dan perempuan bakal membangun rumah tangga, rabi, menikah.

Setelah Gambuh, adalah tembang Dhandanggula. Merasakan manis dan pahitnya kehidupan. Setelah Dhandanggula , menurut Mbah Sunan Ampel, manusia mengalami tembang Dhurma.

Dhurma itu: darma bakti hidupmu itu apa? Kalau pohon mangga setelah berbuah bisa untuk makanan codot, kalau pisang berbuah bisa untuk makanan burung, lha buah-mu itu apa? Tenagamu mana? Hartamu mana? Ilmumu mana yang didarmabaktikan untuk orang lain?

Khairunnas anfa’uhum linnas , sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat untuk manusia lainnya. Sebab, kalau sudah di Dhurma tapi tidak darma bakti, kesusul tembang Pangkur.

Anak manusia yang sudah memunggungi dunia: gigi sudah copot, kaki sudah linu. Ini harus sudah masuk masjid. Kalau tidak segera masuk masjid kesusul tembang Megatruh : megat, memutus raga beserta sukmanya. Mati.

Terakhir sekali, tembangnya Pucung. Lha ini, kalau Hindu reinkarnasi, kalau Islam Pucung . Manusia di pocong. Sluku-sluku Bathok, dimasukkan pintu kecil. Makanya orang tua (dalam Jawa) dinamai buyut, maksudnya : siap-siap mlebu lawang ciut (siap-siap masuk pintu kecil).

Adakah yang mengajar sebaik itu di dunia?
Kalau sudah masuk pintu kecil, ditanya Malaikat Munkar dan Nankir. Akhirnya itu, yang satu reinkarnasi, yang satu buyut . Ditanya: “Man rabbuka?” , dijawab: “Awwloh,”. Ingin disaduk Malaikat Mungkar – Nakir apa karena tidak bisa mengucapkan Allah.

Ketika ingin disaduk, Malaikat Rakib buru-buru menghentikan: “Jangan disiksa, ini lidah Jawa”. Tidak punya alif, ba, ta, punyanya ha, na, ca, ra, ka . “Apa sudah mau ngaji?”kata Mungkar – Nakir. “Sudah, ini ada catatanya, NU juga ikut, namun belum bisa sudah meninggal”. “Yasudah, meninggalnya orang yang sedang belajar, mengaji, meninggal yang dimaafkan oleh Allah.”

Maka, seperti itu belajar. Kalau tidak mau belajar, ditanya, “Man rabbuka?” , menjawab, “Ha……..???”. langsung dipukul kepalanya:”Plaakkk!!”. Di- canggah lehernya oleh malaikat. Kemudian jadi wareng , takut melihat akhirat, masukkan ke neraka, di- udek oleh malaikat, di-gantung seperti siwur, iwir-iwir, dipukuli modal-madil seperti tarangan bodhol , ajur mumur seperti gedhebok bosok.

Maka, pangkat manusia, menurut Sunan Ampel: anak – bapak – simbah – mbah buyut – canggah – wareng – udek-udek – gantung siwur – tarangan bodol – gedhebok bosok. Lho, dipikir ini ajaran Hindu. Kalau seperti ini ada yang bilang ajaran Hindu, kesini, saya tabok mulutnya!

Begitu tembang ini jadi, kata Mbah Bonang, masa nyanyian tidak ada musiknya. Maka dibuatkanlah gamelan, yang bunyinya Slendro Pelok : nang ning nang nong, nang ning nang nong, ndang ndang, ndang ndang, gung . Nang ning nang nong: yo nang kene yo nang kono (ya disini ya disana); ya disini ngaji, ya disana mencuri kayu.

Lho, lha ini orang-orang kok. Ya seperti disini ini: kelihatannya disini shalawatan, nanti pulang lihat pantat ya bilang: wow!. Sudah hafal saya, melihat usia-usia kalian. Ini kan kamu pas pakai baju putih. Kalau pas ganti, pakainya paling ya kaos Slank.

Nah, nang ning nang nong, hidup itu ya disini ya disana. Kalau pingin akhiran baik, naik ke ndang ndang, ndang ndang, gung. Ndang balik ke Sanghyang Agung. Fafirru illallaah , kembalilah kepada Allah. Pelan-pelan. Orang sini kadang tidak paham kalau itu buatan Sunan Bonang.

Maka, kemudian, oleh Kanjeng Sunan Kalijaga, dibuatkan tumpeng agar bisa makan. Begitu makan kotor semua, dibasuh dengan tiga air bunga: mawar, kenanga dan kanthil.

Maksudnya: uripmu mawarno-warno, keno ngono keno ngene, ning atimu kudhu kanthil nang Gusti Allah (Hidupmu berwarna-warni, boleh seperti ini seperti itu, tetapi hatimu harus tertaut kepada Allah). Lho , ini piwulang-piwulangnya, belum diajarkan apa-apa. Oleh Sunan Kalijaga, yang belum bisa mengaji, diajari Kidung Rumekso Ing Wengi. Oleh Syekh Siti Jenar, yang belum sembahyang, diajari syahadat saja.

Ketika tanaman ini sudah ditanam, Sunan Ampel kemudian ingin tahu: tanamanku itu sudah tumbuh apa belum? Maka di-cek dengan tembang Lir Ilir, tandurku iki wis sumilir durung? Nek wis sumilir, wis ijo royo-royo, ayo menek blimbing. Blimbing itu ayo shalat. Blimbing itu sanopo lambang shalat.

Disini itu, apa-apa dengan lambang, dengan simbol: kolo-kolo teko , janur gunung. Udan grimis panas-panas , caping gunung. Blimbing itu bergigir lima. Maka, cah angon, ayo menek blimbing . Tidak cah angon ayo memanjat mangga.

Akhirnya ini praktek, shalat. Tapi prakteknya beda. Begitu di ajak shalat, kita beda. Disana, shalat 'imaadudin, lha shalat disini, tanamannya mleyor-mleyor, berayun-ayun.

Disana dipanggil jam setengah duabelas kumpul. Kalau disini dipanggil jam segitu masih disawah, di kebun, angon bebek, masih nyuri kayu. Maka manggilnya pukul setengah dua. Adzanlah muadzin, orang yang adzan. Setelah ditunggu, tunggu, kok tidak datang-datang.

Padahal tugas Imam adalah menunggu makmum. Ditunggu dengan memakai pujian. Rabbana ya rabbaana, rabbana dholamna angfusana , – sambil tolah-toleh, mana ini makmumnya – wainlam taghfirlana, wa tarhamna lanakunanna minal khasirin.

Datang satu, dua, tapi malah merokok di depan masjid. Tidak masuk. Maka oleh Mbah Ampel: Tombo Ati, iku ono limang perkoro….. . Sampai pegal, ya mengobati hati sendiri saja. Sampai sudah lima kali kok tidak datang-datang, maka kemudian ada pujian yang agak galak: di urugi anjang-anjang……. , langsung deh, para ma'mum buruan masuk. Itu tumbuhnya dari situ.

Kemudian, setelah itu shalat. Shalatnya juga tidak sama. Shalat disana, dipanah kakinya tidak terasa, disini beda. Begitu Allahu Akbar , matanya bocor: itu mukenanya berlubang, kupingnya bocor, ting-ting-ting, ada penjual bakso. Hatinya bocor: protes imamnya membaca surat kepanjangan. Nah, ini ditambal oleh para wali, setelah shalat diajak dzikir, laailaahaillallah.

Hari ini, ada yang protes: dzikir kok kepalanya gedek-gedek, geleng-geleng? Padahal kalau sahabat kalau dzikir diam saja. Lho, sahabat kan muridnya nabi. Diam saja hatinya sudah ke Allah. Lha orang sini, di ajak dzikir diam saja, ya malah tidur. Bacaannya dilantunkan dengan keras, agar ma'mum tahu apa yang sedang dibaca imam.

Kemudian, dikenalkanlah nabi. Orang sini tidak kenal nabi, karena nabi ada jauh disana. Kenalnya Gatot Kaca. Maka pelan-pelan dikenalkan nabi. Orang Jawa yang tak bisa bahasa Arab, dikenalkan dengan syair: kanjeng Nabi Muhammad, lahir ono ing Mekkah, dinone senen, rolas mulud tahun gajah.

Inilah cara ulama-ulama dulu kala mengajarkan Islam, agar masyarakat disini kenal dan paham ajaran nabi. Ini karena nabi milik orang banyak (tidak hanya bangsa Arab saja). Wamaa arsalnaaka illa rahmatal lil ‘aalamiin ; Aku (Allah) tidak mengutusmu (Muhammad) kecuali untuk menjadi rahmat bagi alam semesta.

Maka, shalawat itu dikenalkan dengan cara berbeda-beda. Ada yang sukanya shalawat ala Habib Syekh, Habib Luthfi, dll. Jadi jangan heran kalau shalawat itu bermacam-macam. Ini beda dengan wayang yang hanya dimiliki orang Jawa.

Orang kalau tidak tahu Islam Indonesia, pasti bingung. Maka Gus Dur melantunkan shalawat memakai lagu dangdut. Astaghfirullah, rabbal baraaya, astaghfirullah, minal khataaya, ini lagunya Ida Laila: Tuhan pengasih lagi penyayang, tak pilih kasih, tak pandang sayang. Yang mengarang namanya Ahmadi dan Abdul Kadir.

Nama grupnya Awara. Ida Laila ini termasuk Qari’ terbaik dari Gresik. Maka lagunya bagus-bagus dan religius, beda dengan lagu sekarang yang mendengarnya malah bikin kepala pusing. Sistem pembelajaran yang seperti ini, yang dilakukan oleh para wali. Akhirnya orang Jawa mulai paham Islam.

Namun selanjutnya Sultan Trenggono tidak sabaran: menerapkan Islam dengan hukum, tidak dengan budaya. "Urusanmu kan bukan urusan agama, tetapi urusan negara,” kata Sunan Kalijaga. “Untuk urusan agama, mengaji, biarlah saya yang mengajari,” imbuhnya.

Namun Sultan Trenggono terlanjur tidak sabar. Semua yang tidak sesuai dan tidak menerima Islam di uber-uber. Kemudian Sunan Kalijaga memanggil anak-anak kecil dan diajari nyanyian:

Gundul-gundul pacul, gembelengan.
Nyunggi-nyunggi wangkul, petentengan.
Wangkul ngglimpang segane dadi sak latar 2x

Gundul itu kepala. Kepala itu ra’sun. Ra’sun itu pemimpin. Pemimpin itu ketempatan empat hal: mata, hidung, lidah dan telinga. Empat hal itu tidak boleh lepas. Kalau sampai empat ini lepas, bubar.

Mata kok lepas, sudah tidak bisa melihat rakyat. Hidung lepas sudah tidak bisa mencium rakyat. Telinga lepas sudah tidak mendengar rakyat. Lidah lepas sudah tidak bisa menasehati rakyat. Kalau kepala sudah tidak memiliki keempat hal ini, jadinya gembelengan.

Kalau kepala memangku amanah rakyat kok terus gembelengan, menjadikan wangkul ngglimpang, amanahnya kocar-kacir. Apapun jabatannya, jika nanti menyeleweng, tidak usah di demo, nyanyikan saja Gundul-gundul pacul. Inilah cara orang dulu, landai.

Akhirnya semua orang ingin tahu bagaimana cara orang Jawa dalam ber-Islam. Datuk Ribandang, orang Sulawesi, belajar ke Jawa, kepada Sunan Ampel. Pulang ke Sulawesi menyebarkan Islam di Gunung Bawakaraeng, menjadilah cikal bakal Islam di Sulawesi.

Berdirilah kerajaan-kerajaan Islam di penjuru Sulawesi. Khatib Dayan belajar Islam kepada Sunan Bonang dan Sunan Kalijaga. Ketika kembali ke Kalimantan, mendirikan kerajaan-kerajaan Islam di Kalimantan.

Ario Damar atau Ario Abdillah ke semenanjung Sumatera bagian selatan, menyebarkan dan mendirikan kerajaan-kerajaan di Sumatera.
Kemudian Londo (Belanda) datang. Mereka semua – seluruh kerajaan yang dulu dari Jawa – bersatu melawan Belanda.

Ketika Belanda pergi, bersepakat dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Maka kawasan di Indonesia disebut wilayah, artinya tinggalan para wali. Jadi, jika anda meneruskan agamanya, jangan lupa kita ditinggali wilayah. Inilah Nahdlatul Ulama, baik agama maupun wilayah, adalah satu kesatuan: NKRI Harga Mati.

Maka di mana di dunia ini, yang menyebut daerahnya dengan nama wilayah? Di dunia tidak ada yang bisa mengambil istilah: kullukum raa’in wa kullukum mas uulun ‘an ra’iyatih ; bahwa Rasulullah mengajarkan hidup di dunia dalam kekuasaan ada sesuatu yaitu pertanggungjawaban.

Dan yang bertanggungjawab dan dipertanggung jawabkan disebut ra’iyyah. Hanya Indonesia yang menyebut penduduknya dengan sebutan ra’iyyah atau rakyat. Begini kok banyak yang bilang tidak Islam.

Nah, sistem perjuangan seperti ini diteruskan oleh para ulama Indonesia. Orang-orang yang meneruskan sistem para wali ini, dzaahiran wa baatinan, akhirnya mendirikan sebuah organisasi yang dikenal dengan nama Jam’iyyah Nahdlatul Ulama.

Kenapa kok bernama Nahdlatul Ulama. Dan kenapa yang menyelamatkan Indonesia kok Nahdlatul Ulama? Karena diberi nama Nahdlatul Ulama. Nama inilah yang menyelamatkan. Sebab dengan nama Nahdlatul Ulama, orang tahu kedudukannya: bahwa kita hari ini, kedudukannya hanya muridnya ulama.

Meski, nama ini tidak gagah. KH. Ahmad Dahlah menamai organisasinya Muhammadiyyah: pengikut Nabi Muhammad, gagah. Ada lagi organisasi, namanya Syarekat Islam, gagah. Yang baru ada Majelis Tafsir Alquran, gagah namanya. Lha ini “hanya” Nahdlatul Ulama. Padahal ulama kalau di desa juga ada yang hutang rokok.

Tapi Nahdlatul Ulama ini yang menyelamatkan, sebab kedudukan kita hari ini hanya muridnya ulama. Yang membawa Islam itu Kanjeng Nabi. Murid Nabi namanya Sahabat. Murid sahabat namanya tabi’in . Tabi’in bukan ashhabus-shahabat , tetapi tabi’in , maknanya pengikut.

Murid Tabi’in namanya tabi’it-tabi’in , pengikutnya pengikut. Muridnya tabi’it-tabi’in namanya tabi’it-tabi’it-tabi’in , pengikutnya pengikutnya pengikut. Lha kalau kita semua ini namanya apa? Kita muridnya KH Hasyim Asy’ari.

Lha KH Hasyim Asy’ari hanya muridnya Kiai Asyari. Kiai Asyari mengikuti gurunya, namanya Kiai Usman. Kiai Usman mengikuti gurunya namanya Kiai Khoiron, Purwodadi (Mbah Gareng). Kiai Khoiron murid Kiai Abdul Halim, Boyolali.

Mbah Abdul Halim murid Kiai Abdul Wahid. Mbah Abdul Wahid itu murid Mbah Sufyan. Mbah Sufyan murid Mbah Jabbar, Tuban. Mbah Jabbar murid Mbah Abdur Rahman, murid Pangeran Sambuh, murid Pangeran Benowo, murid Mbah Tjokrojoyo, Sunan Geseng.

Sunan Geseng hanya murid Sunan Kalijaga, murid Sunan Bonang, murid Sunan Ampel, murid Mbah Ibrahim Asmoroqondi, murid Syekh Jumadil Kubro, murid Sayyid Ahmad, murid Sayyid Ahmad Jalaludin, murid Sayyid Abdul Malik, murid Sayyid Alawi Ammil Faqih, murid Syekh Ahmad Shohib Mirbath.

Kemudian murid Sayyid Ali Kholiq Qosam, murid Sayyid Alwi, murid Sayyid Muhammad, murid Sayyid Alwi, murid Sayyid Ahmad Al-Muhajir, murid Sayyid Isa An-Naquib, murid Sayyid Ubaidillah, murid Sayyid Muhammad, murid Sayyid Ali Uraidi, murid Sayyid Ja’far Shodiq, murid Sayyid Musa Kadzim, murid Sayyid Muhammad Baqir. Sayyid Muhammad Baqir hanya murid Sayyid Zaenal Abidin, murid Sayyidina Hasan – Husain, murid Sayiidina Ali karramallahu wajhah . Nah, ini yang baru muridnya Rasulullah saw.

Kalau begini nama kita apa? Namanya ya tabiit-tabiit-tabiit-tabiit-tabiit-tabiit…, yang panjang sekali. Maka cara mengajarkannya juga tidak sama. Inilah yang harus difahami.

Rasulullah itu muridnya bernama sahabat, tidak diajari menulis Alquran. Maka tidak ada mushaf
Alquran di jaman Rasulullah dan para sahabat. Tetapi ketika sahabat ditinggal wafat Rasulullah, mereka menulis Alquran.

Untuk siapa? Untuk para tabi’in yang tidak bertemu Alquran. Maka ditulislah Alquran di jaman Sayyidina Umar dan Sayyidina Utsman.
Tetapi begitu para sahabat wafat,
tabi’in harus mengajari dibawahnya.

Mushaf Alquran yang ditulis sahabat terlalu tinggi, hurufnya rumit tidak bisa dibaca. Maka pada tahun 65 hijriyyah diberi tanda “titik” oleh Imam Abu al-Aswad ad-Duali, agar supaya bisa dibaca.

Tabiin wafat, tabi’it tabi’in mengajarkan yang dibawahnya. Titik tidak cukup, kemudian diberi “harakat” oleh Syekh Kholil bin Ahmad al-Farahidi, guru dari Imam Sibawaih, pada tahun 150 hijriyyah.

Kemudian Islam semakin menyebar ke penjuru negeri, sehingga Alquran semakin dibaca oleh banyak orang dari berbagai suku dan ras. Orang Andalusia diajari “ Waddluha” keluarnya “ Waddluhe”.

Orang Turki diajari “ Mustaqiim” keluarnya “ Mustaqiin”. Orang Padang, Sumatera Barat, diajari “ Lakanuud ” keluarnya “ Lekenuuik ”. Orang Sunda diajari “ Alladziina ” keluarnya “ Alat Zina ”.

Di Jawa diajari “ Alhamdu” jadinya “ Alkamdu ”, karena punyanya ha na ca ra ka . Diajari “ Ya Hayyu Ya Qayyum ” keluarnya “ Yo Kayuku Yo Kayumu ”. Diajari “ Rabbil ‘Aalamin ” keluarnya “ Robbil Ngaalamin” karena punyanya ma ga ba tha nga.

Orang Jawa tidak punya huruf “ Dlot ” punyanya “ La ”, maka “ Ramadlan ” jadi “ Ramelan ”. Orang Bali disuruh membunyikan “ Shiraathal…” bunyinya “ Sirotholladzina an’amtha ‘alaihim ghairil magedu bi’alaihim waladthoilliin ”. Di Sulawesi, “’ Alaihim” keluarnya “’ Alaihing ”.

Karena perbedaan logat lidah ini, maka pada tahun 250 hijriyyah, seorang ulama berinisiatif menyusun Ilmu Tajwid fi Qiraatil Quran , namanya Abu Ubaid bin Qasim bin Salam.
Ini yang kadang orang tidak paham pangkat dan tingkatan kita. Makanya tidak usah pada ribut.

Murid ulama itu beda dengan murid Rasulullah. Murid Rasulullah, ketika dzikir dan diam, hatinya “online” langsung kepada Allah SWT. Kalau kita semua dzikir dan diam, malah jadinya tidur.
Maka disini, di Nusantara ini, jangan heran.

Ibadah Haji, kalau orang Arab langsung lari ke Ka’bah. Muridnya ulama dibangunkan Ka’bah palsu di alun-alun, dari triplek atau kardus, namanya manasik haji. Nanti ketika hendak berangkat haji diantar orang se-kampung.

Yang mau haji diantar ke asrama haji, yang mengantar pulangnya belok ke kebun binatang. Ini cara pembelajaran. Ini sudah murid ulama. Inilah yang orang belajar sekarang: kenapa Islam di Indonesia, Nahdlatul Ulama selamat, sebab mengajari manusia sesuai dengan hukum pelajarannya ulama.

Anda sekalian disuruh dzikir di rumah, takkan mau dzikir, karena muridnya ulama. Lha wong dikumpulkan saja lama kelamaan tidur. Ini makanya murid ulama dikumpulkan, di ajak berdzikir.

Begitu tidur, matanya tidak dzikir, mulutnya tidak dzikir, tetapi, pantat yang duduk di majelis dzikir, tetap dzikir. Nantinya, di akhirat ketika
“wa tasyhadu arjuluhum ,” ada saksinya.
Orang disini, ketika disuruh membaca Alquran, tidak semua dapat membaca Alquran. Maka diadakan semaan Alquran.

Mulut tidak bisa membaca, mata tidak bisa membaca, tetapi telinga bisa mendengarkan lantunan Alquran. Begitu dihisab mulutnya kosong, matanya kosong, di telinga ada Alqurannya.

Maka, jika bukan orang Indonesia, takkan mengerti Islam Indonesia. Mereka tidak paham, oleh karena, seakan-akan, para ulama dulu tidak serius dalam menanam. Sahadatain jadi sekaten. Kalimah sahadat jadi kalimosodo. Ya Hayyu Ya Qayyum jadi Yo Kayuku Yo Kayumu.

Ini terkesan ulama dahulu tidak ‘alim. Ibarat pedagang, seperti pengecer. Tetapi, lima ratus tahun kemudian tumbuh subur menjadi Islam Indonesia. Jamaah haji terbanyak dari Indonesia. Orang shalat terbanyak dari Indonesia. Orang membaca Alquran terbanyak dari Indonesia.

Dan Islam yang datang belakangan ini gayanya seperti grosir: islam kaaffah, begitu diikuti, mencuri sapi. Dilihat dari sini, saya meminta, Tentara Nasional Indonesia, Polisi Republik Indonesia, jangan sekali-kali mencurigai Nahdlatul Ulama menanamkan benih teroris.

Teroris tidak mungkin tumbuh dari Nahdlatul Ulama, karena Nahdlatul Ulama lahir dari Bangsa Indonesia. Tidak ada ceritanya Banser kok ngebom disini, sungkan dengan makam gurunya. Mau ngebom di Tuban, tidak enak dengan Mbah Sunan Bonang.

Saya yang menjamin. Ini pernah saya katakan kepada Panglima TNI. Maka, anda lihat teroris di seluruh Indonesia, tidak ada satupun anak warga jamiyyah Nahdlatul Ulama. Maka, Nahdlatul Ulama hari ini menjadi organisasi terbesar di dunia.

Dari Muktamar Makassar jamaahnya sekitar 80 juta, sekarang di kisaran 120 juta. Yang lain dari 20 juta turun menjadi 15 juta. Kita santai saja. Lama-lama mereka tidak kuat, seluruh tubuh kok ditutup kecuali matanya. Ya kalau pas jualan tahu, lha kalau pas nderep di sawah bagaimana. Jadi kita santai saja. Kita tidak pernah melupakan sanad, urut-urutan, karena itu cara Nahdlatul Ulama agar tidak keliru dalam mengikuti ajaran Rasulullah Muhammad saw.

--------

Tulisan ini adalah resume ceramah Kiai Ahmad/ Muwaffiq (PWNU DIY)