Karen Amstrong : Mengartikulasikan Islam yang Welas Asih
(Oleh : Dina Y. Sulaeman / https://dinasulaeman.wordpress.com/2013/06/17/karen-amstrong-mengartikulasikan-islam-yang-welas-asih/ )
Konflik di Timur Tengah yang semakin hari semakin memanas seolah
menampilkan sebuah wajah Islam yang kelam. Selain aksi bom bunuh diri
yang seolah dianggap ‘lazim’ dilakukan oleh para teroris berlabel Islam
di berbagai negara, kita disuguhi parade kebencian yang akut hingga ke
level yang paling mengerikan, seperti menggorok leher, mutilasi mayat,
atau memakan jantung mayat yang direkam dan diperlihatkan dengan bangga
oleh para pelakunya.
Inikah wajah Islam sejati? Pastinya, setiap muslim yang berhati
nurani akan menjawab TIDAK. Lalu, mengapa semua ini bisa terjadi dan
bagaimana mengatasinya?
Karen Amstrong, seorang pemikir kelas dunia yang telah menulis banyak
buku tentang sejarah dan dialog agama-agama, telah memberikan tawaran
solusinya. Pada tanggal 14-15 Juni yang lalu, Amstrong datang memberikan
kuliah umum di beberapa universitas di Indonesia. Di Universitas
Paramadina, dia menjelaskan dengan indah, betapa esensi Islam dan
berbagai agama samawi lainnya, adalah cinta dan welas asih (compassion).
Esensi ini semakin hari semakin terkubur, namun selalu ada semangat
dari segelintir orang untuk menggali dan mengartikulasikannya kembali.
Compassion,menurut Amstrong, adalah sesuatu yang sejatinya ada dalam
diri manusia. Sikap welas asih berbeda dengan feeling (perasaan) yang
biasanya fluktuatif. Kita bisa menyayangi seseorang detik ini, namun di
saat yang lain, kita bisa berbalik membencinya dengan berbagai alasan,
bahkan alasan yang irrasional sekalipun. Namun sikap welas asih adalah
sesuatu yang selalu ada, dalam kondisi apapun, kepada siapapun, bahkan
termasuk kepada musuh sekalipun. Menurut Amstrong welas asih adalah
bagaikan sikap seorang ibu terhadap bayi yang dilahirkannya, akan selalu
ada, meski si anak melakukan hal-hal yang melukai hati sang ibu.
Compassion bisa tumbuh ketika manusia berhasil menekan egonya dan
lebih mementingkan sesama. Itulah sebabnya, manusia yang punya sikap
welas asih, tidak akan bisa hidup tenang. Dia akan selalu risau
memikirkan nasib sesama manusia yang tertindas, dimanapun mereka berada.
Dalam sikap welas asih, tidak ada lagi ‘mereka’ atau ‘saya’, yang ada
adalah ‘kita’. Terorisme di Afghan, Pakistan, atau Suriah tidak lagi
urusan ‘mereka’, karena setiap saat akan bisa hadir di tempat ‘saya’.
Karenanya, ini semua adalah urusan ‘kita’ dan kita semua harus
bergandengan tangan untuk menyelesaikan problem besar ini.
Di balik segala bentuk kekerasan yang muncul sepanjang sejarah atas
nama Islam, justru Islam sesungguhnya adalah agama yang segenap
ajarannya bertujuan untuk menumbuhkan sikap compassion dalam diri
individu. Amstrong mencontohkan ajaran sholat. Ketika Nabi Muhammad
mengajak umatnya untuk bersujud, meletakkan kening di tanah, di sisi
Ka’bah, pada saat itu sebenarnya beliau mengajak umatnya untuk melepas
ego dan menyadari bahwa manusia adalah hamba Allah dan semua manusia
sama-sama hamba sahaya, sama-sama makhluk lemah di hadapan Allah. Lalu,
ajaran zakat. Ketika zakat diwajibkan dengan besaran tertentu, maka
zakat menjadi semacam paksaan kepada manusia untuk melepas ego dan rasa
cinta pada harta. Zakat berbeda dengan infaq yang bisa fluktuatif,
bergantung feeling manusia.
Amstrong juga merefleksikan kisah Hijrah di masa Rasulullah sebagai
sebuah ajaran untuk keluar dari ke-aku-an menuju ke-kita-an. Pada masa
itu, tradisi kesukuan sangat kental di jazirah Arab. Mereka rela saling
membunuh demi membela kehormatan suku dan garis darah. Lalu Rasulullah
mengajak umatnya untuk berhijrah, membaur bersama suku-suku yang lain,
dan membangun sebuah masyarakat yang egaliter.
Lalu, siapakah muslim yang tak pernah membaca kisah Perjanjian
Hudaibiyah yang dijalin antara Rasulullah dengan kaum musyrik Makkah?
Namun, Amstrong telah menjelaskan esensinya dengan sangat indah (dan
Amstrong menyatakan bahwa inilah kisah favoritnya). Rasulullah mengajak
umatnya di Madinah untuk berhaji ke Makkah, tanpa membawa senjata.
Bagaimana mungkin perjalanan menuju markas musuh dilakukan tanpa membawa
senjata untuk membela diri? Tapi itulah yang dilakukan oleh Rasulullah
yang memang selalu membawa pesan cinta dalam setiap langkahnya.
Lalu, ketika orang-orang Makkah menghalangi masuknya rombongan haji
ke Makkah, dilakukanlah negosiasi dan ditandatanganilah Perjanjian
Hudaibiyah. Perjanjian ini sangat luar biasa dari sisi compassion dan
menunjukkan betapa Nabi Muhammad adalah sosok yang sangat welas asih dan
telah melepaskan egonya secara total. Beliau sendiri yang mencoret kata
‘Rasulullah’ dalam naskah perjanjian itu, karena negosiator dari Makkah
menolak adanya kata itu.
Yang ada dalam diri Rasulullah hanyalah cinta. Sama sekali tak ada
rasa ego dan ketersinggungan saat gelar yang valid dan disematkan
langsung oleh Allah SWT itu harus dicoretnya sendiri (dalam naskah
perjanjian itu). Gara-gara perjanjian yang sepintas tak adil itu, Nabi
Muhammad dikecam oleh sahabat-sahabatnya sendiri. Namun beliau bersabar.
Terbukti dua tahun kemudian, welas asih dan cinta Rasulullah-lah yang
terbukti ‘menang’, dengan masuknya kaum muslimin secara bebas ke Makkah.
Welas asih, pada akhirnya akan membawa kemenangan. Dan inilah yang
diajarkan para Nabi sejak ribuan tahun yang lalu. Bahkan Al Quran pun
mengajarkan sikap welas asih jauh lebih banyak daripada sikap keras.
Ayat Al Quran yang mengandung nama jamaliah Allah dalam Al Quran
(rahman, rahim, ghafur, lathif, dll) disebut 5x lebih banyak daripada
ayat yang mengandung sifat jalaliah-Nya (seperti Maha Pembalas, akbar,
qawiy, dll). Ibn Arabi mengatakan bahwa bahkan neraka pun diciptakan
Allah di dalam prinsip Jamaliah-Nya. Rahmati wasi’at kulla sya’i, rahmat-Ku meliputi segala sesuatu, demikian firman-Nya.
Allah sedemikian sayangnya kepada hamba-Nya, sehingga tidak ingin
hamba-Nya berbuat dosa dan kezaliman, karena akibat buruknya akan
menimpa diri si hamba sendiri dan seluruh umat. Bisa kita lihat
contohnya hari ini, kezaliman yang dilakukan teroris di satu wilayah,
tidak hanya menimpakan musibah bagi korban yang tewas, tapi efeknya
sangat masif, melewati batas-batas wilayah negara. Demi menjauhkan para
hamba terkasih-Nya dari kejahatan, Allah menciptakan neraka. Namun,
mereka yang benar-benar jahat dan tidak memiliki rasa cinta dan welas
asih, akan memandang neraka sebagai bentuk kekejaman Allah.
Kembali ke persoalan, bagaimana menumbuhkan sikap welas asih di level
indovidu, masyarakat, dan tujuan akhirnya, di level global? Amstrong
memberikan ‘golden rule’yang disarikannya dari ajaran berbagai agama: jangan lakukan sesuatu yang kau tak ingin orang melakukannya pada dirimu. Kau
tak ingin menjadi korban fitnah, jangan memfitnah. Kau tak ingin
diserang, jangan menyerang. Kau tak ingin dijajah,jangan menjajah. Kau
tak ingin dizalimi, jangan menzalimi. Kau tak ingin dibunuh, jangan
membunuh.
Amstrong juga memformulasikan 12 langkah untuk menuju kehidupan yang
berwelas asih, yang bisa dibaca dalam buku berjudul Compassion yang
diterbitkan Mizan. Di antara 12 Langkah itu adalah tentu saja,
mempelajari lebih dalam tentang apa sebenarnya welas asih. Bagi muslim,
tentunya kita perlu menggali lagi supaya bisa menemukan bahwa Islam
adalah agama yang esensinya adalah welas asih, bukan kekerasan. Lalu,
kita perlu belajar untuk berpikir ‘out of the box’. Ketika kita
mendambakan dunia yang damai dan penuh welas asih, kita tak bisa lagi
selalu berpikir tentang ‘kita’ dan menafikan bahwa ‘mereka’ pun adalah
manusia yang sama dengan kita dan punya hak-hak yang sama dengan kita.
Salah satu pertanyaan menarik yang diajukan oleh salah satu hadirin
kepada Amstrong, “Apakah Anda pernah menyampaikan ajaran compassion ini
kepada kelompok-kelompok yang justru ajaran utamanya adalah
intoleransi?” Amstrong menjawab, pernah. Dalam sebuah kuliah umum di
sebuah Pakistan, dia harus dikawal dengan pasukan bersenjata karena
ajaran compassion bertentangan dengan doktrin kekerasan yang banyak
dianut di sana. Di Malaysia, seorang muslim garis keras mengecamnya,
mengatakan Amstrong sebagai nonmuslim tidak berhak bicara tentang
Islam. Amstrong menjelaskan bahwa dia tidak hanya bicara tentang Islam,
namun dia bicara tentang esensi semua agama. Bahkan dia juga mengakui
dalam agamanya sendiri, Kristen, aspek kekerasan juga sangat kental dan
dia pun sering berbicara di hadapan mereka. Karena itu, yang diseru
Amstrong adalah menciptakan dunia yang welas asih, melintasi batas
negara, agama, mazhab, dan ideologi.
Amstrong menggagas Charter for Compassion
yang bisa ditandatangani oleh kita semua. Dan dalam tataran praktis,
masing-masing individu bisa berkontribusi dalam perjuangan ini dengan
cara mempraktikkan kehidupan yang welas asih itu mulai dari diri
sendiri, lalu mengajak keluarga dan masyarakat untuk menumbuhkan rasa
welas asih pada sesama.
*alumnus magister Hubungan Internasional Unpad, penulis buku Prahara Suriah
No comments:
Post a Comment